MAGELANG – Sebagai kota jasa, Magelang terus berbenah dan menata potensi yang ada. Salah satunya makam Kiai Dudo yang diyakini sebagai cikal bakal Kampung Dudan di Kelurahan Tidar Utara, Kecamatan Magelang Tengah.

Penataan dilakukan Pemkot Magelang dengan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dengan nilai Rp 1.770.500.000.
Dijelaskan Pejabat Pemuat Komitmen (PPK) Pekerjaan Penataan Makam Kiai Dudo Afi Trianto, proyek penataan kawasan pepunden warga Kampung Dudan ini sudah dimulai 30 Agustus lalu. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Baja Persada sebagai pemenang tender dengan konsultan CV Rekayasa Jati Mandiri Semarang. Waktunya 90 hari kalender hingga 27 November mendatang.

“Proyek ini memang respons positif dari Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR yang diserahkan ke Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan (Satker PBL) Jateng untuk pelaksanannya,” katanya Kamis (6/9).

Karena merupakan proyek dari pemerintah pusat, Satker PBL maupun Kementerian PUPR butuh ikut memantau perkembangannya. Mereka akan menempatkan kamera CCTV yang terhubung secara daring. Sehingga pekerja tidak bisa seenaknya sendiri dalam mengerjakan proyek bernilai miliaran rupiah ini.

“Nanti aset proyek ini, termasuk kamera CCTV akan dihibahkan ke Pemkot Magelang. Selanjutnya pemkot bisa memelihara dan menjaganya dengan baik,” tutur Afi.

Terkait proyek itu kemarin dilakukan peletakan batu pertama pembangunan oleh Wali Kota Sigit Widyonindito. Dia mengaku gembira proyek yang bermula dari inisiatifnya ini. Setelah sekian lama berkeinginan untuk merenovasi kawasan makam tersebut.

“Kegiatan ini sangat strategis, karena dari awal jabatan periode pertama saya sudah mengidam-idamkan peningkatan area makam ini. Bersyukur akhirnya terwujud di tahun ini melalui Satker PBL Jawa Tengah,” jelasnya.

Sigit menilai, kawasan Makam Kiai Dudo ini menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Magelang. Selain juga wisata religi lain di area Mantyasih dan Makam Syech Subakir di Gunung Tidar. Berdasarkan data, orang yang berziarah ke Syech Subakir tiap tahunnya cukup tinggi, sekitar 70.000 orang di tahun 2017.

“Harapannya, mereka tidak hanya ke Gunung Tidar, tapi juga ke Mantyasih dan Makam Kiai Dudo ini,” ungkapnya. Optimistis muncul karena ketokohan Kiai Dudo diperkirakan sama dengan Syaikh Subakir saat menjadi pengikuti Pangeran Diponegoro. Keduanya sangat berjasa bagi bangsa, terutama bersama-sama merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Lurah Tidar Utara Tenny Iis Mulyadi menyambut baik pembangunan kompleks itu. “Saya berharap nantinya masyarakat setempat bisa dilibatkan dalam pengelolaan kompleks makam ini,” ujar Tenny. (dem/laz/fn)