JOGJA- Sebagai upaya mengurangi penyakit dan meningkatkan kesehatan di kalangan pekerja, Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki) akan menggelar pertemuan ilmiah tahunan (PIT) di Jogjakarta, 21-23 September mendatang.

Ketua umum Perdoki Nusye E Zamsiar menjelaskan, fasilitas kesehatan untuk pekerja tidak hanya di industri formal saja, namun juga perlu ditambah di bidang informal. Dia menyebut di Jogja banyak industri kecil seperti batik.”Kita bisa melihat risiko kesehatan apa saja yang terjadi pada pekerja industry batik,” jelasnya usai menemui Gubernur DIJ Sultan Hamengku Buwono X, di Kepatihan Selasa (7/8).

Menurutnya, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan tentang kesehatan para pekerja ini. Misalnya posisi duduknya membungkuk terus, tangannya bergerak terus, gerakan yang berulang-ulang.”Ini juga dapat menimbulkan keluhan penyakit,” tambahnya.

PIT Perdoki ditargetkan akan melibatkan 500 dokter dari seluruh Indonesia. Tidak hanya dokter, tapi juga praktisi yang berkecimpung di bidang keselamatan kerja. Pertemuan ini juga untuk meningkatkan kemampuan dokter-dokter,’’ tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembayun Setyaningastutie mengatakan, kesehatan pekerja menjadi tanggung jawab bersama. Termasuk bagaimana pekerja itu melindungi dirinya sendiri. “Kalau bekerja, alat pelindung diri merupakan yang utama, apalagi banyak pekerja bangunan, industri, penambang pasir,” tuturnya.

Pembayun menyampaikan pesan Gubernur DIJ HB X bahwa seharusnya pemberi kerja atau pemilik industri dapat berpikir bahwa para pekerja sebagai aset. Aset yang harus memberikan keuntungan bagi industri untuk jangka yang panjang. Sehingga tidak hanya memikirkan cara meningkatkan produktivitas, namun juga mempertimbangkan perlindungan, kesehatan dan kesejahteraan pekerja.

Dia menambahkan, pekerja dengan kasus tertentu seperti penyandang disabilitas mulai lebih diterima industri. Dia berharap dari arahan gubernur, industri dapat bekerja sama dengan organisasi profesi. Selain itu ada pemeriksaan kesehatan untuk pekerja secara periodik.”Misalnya empat bulan dievaluasi, pekerjaan harus dikontrol, termasuk keselamatan kerja,” tambahnya. (tif/din/fn)