SLEMAN – Minimnya taman ramah terhadap anak di Sleman membuat Pemkab Sleman berupaya mewujudkannya. Hasil penilaian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2017 menyatakan Taman Denggung belum layak anak.

Kabid Kebersihan dan Pengelola Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Junaidi mengatakan akan dibangun taman bermain khusus anak. “Karena Taman Denggung untuk umum,” kata Junaidi.

Dikatakan, rencana membangun taman bermain anak sudah masuk dalam anggaran. Namun pihaknya masih belum dapat memastikan kapan pembebasan lahan dilakukan.

“Yang jelas 2019 harus sudah dimulai pembebasan lahannya,” kata Junaidi.
Dia mengungkapkan telah memiliki master plan ruang terbuka hijau sejak 2017. Pihaknya memastikan taman bermain baru ini akan sesuai standar. Hal itu guna mendukung cita-cita Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak.

“Target maksimal 2021 selesai,” kata Junaidi.

Dia menjamin keamanan dan kenyamanan taman bermain anak yang baru. Mulai memasang pagar pengaman, menyiagakan penjaga dan memberlakukan jam operasional.

“Jadi kalau sudah lewat jam operasional sudah tidak bisa masuk,” tegasnya.
Jenis permainan juga akan disesuaikan dengan kelompok umur. Penambahan wahana permainan tradisional juga dilakukan.

Kabid Aset Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman Widodo memastikan anggaran untuk pembebasan lahan telah masuk rencana 2019. “Namun kapan disahkannya, masih menunggu akhir tahun,” kata Widodo, Jumat (3/8).

Pihaknya telah mengajukan usulan besaran anggaran untuk pembebasan lahan. Luas lahan yang akan digunakan sebagai taman anak mencapai satu hektare.

“Dana kami usulkan Rp 30 miliar,” jelasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman Mafilindati Nuraini mengatakan ada kriteria untuk wahana permainan layak anak. Selain mengacu pada kriteria usia, jenis permainan juga harus aman.

“Pinggir-pinggir permainan harus aman dan tidak tajam,” kata Mafilinda.

Seluruh fasilitas harus mudah untuk diakses anak-anak dan kaum difabel. Perosotan yang biasa digunakan harus membentuk sudut tertentu.
Sehingga ketika anak bermain perosotan tidak langsung meluncur ke bawah. “Dan yang tak kalah penting ada permukaan yang lunak di ujung perosotan,” kata Mafilindati. (har/iwa/mg1)