JOGJA– Pemprov DIJ tengah menelusuri seluk-beluk dampak keberadaan dana keistimewaan (danais). Terutama, anggaran yang telah dikucurkan sejak 2013 lalu. Caranya, dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat.

“Ada 600 kuesioner yang disebar,” sebut Asisten Keistimewaan Setda DIJ Didik Purwadi saat ditemui di Kepatihan kemarin (11/4).

Dikatakan, langkah ini juga sebagai upaya pemprov mengevaluasi sekaligus menjaring aspirasi masyarakat terkait penggunaan danais. Didik berharap hasil kuesioner menjaring seluruh penilaian objektif masyarakat. Baik penilaian positif maupun negatif.

“Bila ada penilaian buruk, ya, nanti akan diperbaiki,” ucapnya.

Agar hasil kuesioner benar-benar akurat, pemprov bekerjasama dengan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ternama. Seperti UGM, ISI dan UNY. Didik menargetkan, evaluasi terhadap dampak danais ini selesai Juni. Dengan begitu, dapat dijadikan sebagai bahan kajian.

“Evaluasi danais rutin. Setiap lima tahun sekali,” tuturnya.

Melihat langkah pemprov, Anggota DPRD DIJ Sukamto tak mempersoalkannya. Dia menengarai penyebaran kuesioner merupakan gagasan gubernur DIJ. Terbuka kemungkinan langkah ini sebagai salah satu bahan pertimbangan rencana penyaluran danais kepada pemerintah desa atau pedukuhan. “Tapi itu baru perkiraan,” katanya.

Seperti diketahui, sejak Undang-Undang Nomor 13/2012 tentang Keistimewaan DIJ ditetapkan, Pemprov DIJ mendapatkan total alokasi danais sebesar Rp 3,6 triliun. Mulai 2013 hingga tahun ini. Jumlah danais dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.(bhn/zam/ong)