SLEMAN – Tercatat ada 16 korban meninggal dunia selama Operasi Keselamatan Progo 2018 berlangsung. Angka ini jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 28 korban meninggal dunia. Hanya, secara angka kecelakaan ada peningkatan dari 215 menjadi 227 kasus kecelakaan lalu lintas.

Dirlantas Polda DIJ Kombespol Latif Usman mengungkapkan, jumlah pelanggaran hingga menimbulkan korban laka lantas mayoritas disebabkan kecerobohan pengendara. Mulai dari pelanggaran marka jalan, tidak mematuhi aturan lalu lintas hingga belum memenuhi syarat berkendara. Salah satunya adalah pengendara usia bawah umur atau siswa sekolah.

“Tercatat pula angka kerugian akibat kecelakaan menurun dari Rp 155 juta jadi Rp 121 juta. Tapi untuk angka luka berat dan ringan memang ada peningkatan,” jelasnya Senin (26/3).

Dia menegaskan upaya pencegahan sejatinya telah dilakukan secara komprehensif. Tidak hanya operasi lalu lintas namun edukasi dalam berbagai forum. Sasaran dari edukasi ini tidak hanya orang dewasa namun juga usia anak-anak.

“Pelaksanaan operasi berjalan efektif. Tujuan utamanya mengedukasi, preemtif, preventif daripada tindakan tilang. Setidaknya operasi ini mampu menekan korban jiwa meninggal dunia,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, pelanggaran-pelanggaran tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan. Terbukti jumlah pelanggar di kawasan jalan raya seperti di Ringroad juga tinggi. Jenis pelanggaran yang masih kerap terulang adalah melawan arus.

“Diperparah ulah para pengendara yang tidak memakai helm. Kesadaran untuk patuh terhadap aturan lalin sejatinya wajib, tidak harus saat ada petugas saja, ” katanya.

Penggunaan gawai saat berkendara juga kerap ditemui. Bahkan intensitas penggunaan hampir terjadi di seluruh segmen usia. Dampak dari pelanggaran ini adalah berkurangnya fokus pengendara kendaraan bermotor. (dwi/ila/mg1)