Lada dikenal tanaman kaya akan kandungan kimia. Seperti minyak lada, pati dan juga minyak lemak. Pada umumnya lada dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Ada dua jenis lada yaitu lada hitam dan lada putih. Lada memiliki sifat agak pahit, pedas, hangat, dan antipiretik.

Rasa lada hampir sama dengan cabai dan juga harganya cukup tinggi. Selain itu, lada juga memiliki banyak khasiat untuk tubuh. Maka dari itu, banyak orang yang mulai tertarik membudidayakan lada untuk meningkatkan nilai ekonomi. Walaupun sebenarnya lada telah dibudidaya sejak zaman dulu.

Dilihat dari segi ekonomi harga pasar, lada termasuk jenis rempah mahal yang banyak sekali diminati orang. Meskipun menanam jenis tanaman ini tidaklah mudah. Namun di tangan orang terampil dari Menoreh, kini tanaman lada mudah dan banyak dibudidayakan di tingkat rumah tangga.

Adalah Slamet Sunarno, warga asal Juru Sawah, Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Pria 52 tahun ini berhasil mengembangkan varietas Lada Mutiara dengan teknik sambung yang mempercepat produksi.

Dengan sistem sambung mengunakan batang jenis sirih-sirihan ini, memiliki beberapa kelebihan. Antara lain, lebih cepat berbuah, hasil produksi lebih tinggi, proses pembuatan lebih cepat, dan menghasilkan pohon lada yang perdu.

Bahkan juga tidak menjalar seperti lada pada umumnya. Berbagai teknik serta jenis penyambungan telah ia coba. “Namun yang paling bagus dan berhasil dengan baik adalah menyambung dengan batang utama jenis sirih-sirihan ini,” jelas Slamet.

Meskipun harga lada di pasar saat ini sangat mahal daripada jenis rempah pada umumnya, belum banyak orang yang menanam tanaman ini. Hal ini bisa dikarenakan lada pada umumnya hanya dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian sekitar 300-1.100 meter di atas permukaan laut.

Selain itu, juga memiliki curah hujan sekitar 2.000-3.000 mm/tahun, memiliki suhu udara sekitar 20°C-30°C dan kelembaban udara sekitar 50-90 persen. Serta daerah itu mendapat cukup sinar matahari yaitu sekitar 10 jam per hari.

Lahan tanam yang akan digunakan menanam lada harus memiliki tanah yang subur dan kaya bahan organik. Tanah yang baik untuk menanam lada adalah jenis tanah padsolik, latosol, utisol dan lateritik dengan pH tanah sekitar 5,5 .

Slamet mengaku, mulai meneliti lada sejak 2010. Kemudian baru pada pertengahan 2012 berhasil mengembangkan varietas Lada Mutiara yang cukup ditanam di dalam pot/polibag dan tidak menjalar.

Selain membudidayakan tanaman lada, Slamet juga Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang. Selain sebagai PNS, Slamet juga menekuni usaha bidang pembibitan. Berbagai jenis bibit tanaman ia budidayakan dan melayani banyak pesanan.

Tidak tanggung-tanggung, pesanannya bahkan hingga keluar Pulau Jawa. Ia sering mengisi seminar-seminar di bidang pertanian. Dalam waktu dekat ia akan bertolak ke Sulawesi untuk mengirim bibit tanaman buah serta memandu penanamanya.

Di ajang Lomba Creativitas dan Inovasi (Creanova) Kabupaten Magelang, Slamet dengan budidaya mericanya berhasil menjadi finalis di antara produk yang lain. Ajang serupa di tingkat Provinsi Jawa Tengah juga pernah ia ikuti.

“Kami telah cukup lama meneliti tanaman lada ini. Dengan teknik sambung yang kami lakukan, maka tanaman lada dapat tumbuh dengan baik di semua medan dan cuaca,” jelasnya.(laz/mg1)