DARI keluarga yang mencintai fotografi, akhirnya menyebabkan Ignatius Raditya Bramantya pun terjun ke dunia tersebut. Bram, sapaannya, belajar fotografi dari keluarganya.

Dia menekui fotografi sejak kelas 3 sekolah dasar (SD). Ayahnya fotografer, dua kakaknya menjadi jurnalis di Jakarta dan photo agency di Jerman. Mau tidak mau, setiap hari dia selalu bersentuhan dengan fotografi.

Bram kini bersentuhan dengan fotografi fashion. “Sebelumnya, aku tidak berkeinginan menjadi fashion photographer. Aku menyukai foto yang merespons persoalan social di Jogja,” kata Bram.

Dia suka mengombinasikan puisi dan lagu sendu untuk divisualisasikan. “Ada yang bilang fotoku sendu, galau, gloomy, gelap, dan semacamnya,” kata Bram.

Karya pria berusia 26 tahun tersebut banyak disukai. “Mungkin karena di Jogja foto seperti itu masih jarang,” kata Bram.
Jakarta Fashion Week menjadi starting point Bram semakin dikenal di dunia fashion photography. Karya fotografinya unik, dia sering diajak berkolaborasi dengan desainer lokal mencoba hal baru dan unik.

Pada 2012, pria kelahiran Jogja tersebut mengikuti lomba seni nasional. Diikuti sekitar 35.000 peserta. Terdiri dari lima cabang seni, musik, film, fotografi, seni rupa, dan desain.

Bram berhasil menjuarai lomba tersebut. Karyanya dibawa ke Paris, dan dia melanjutkan studi singkat bersama vendor acara tersebut.

Ilmu yang dia dapat di Paris, menyebabkan dia bisa bergabung di Fashion TV Asia, berlokasi di Jakarta selama setahun. Bram kini membuka bisnis production house, fokus di bidang komersial.

“Domisili di Jogja, tapi pasarnya se-Indonesia. Lumayan untuk nambah uang jajan dan bersenang sama teman-teman,” kelakar Bram.

Dia berprinsip selalu mencari hal baru dan unik. “Jadilah diri sendiri. Melihat orang lain untuk mengukur kemampuan kita saja. Hargai proses, jangan lupa selalu fokus terhadap genre foto yang kamu tekuni,” pesan Bram. (dit/iwa/ong)