BERANI bersuara saat melihat yang salah. Demikian prinsip yang dipegang penggiat film dokumenter Jogja Hariwicahyo Utomo. Pria kelahiran Jakarta 12 Desember 1994 tersebut cinta media rekam sejak kelas 10 sekolah menengah atas (SMA).

Hariwi, sapaan Hariwicahyo Utomo, saat itu merekam prosesi pemakaman neneknya. Sejak saat itu pula, dia suka mengabadikan setiap momen dengan kamera videonya.

Bagi dia, lewat dokumentasi, dia akan mampu menceritakan kisah tanpa harus berbicara banyak kepada setiap orang. “Video can speaks louder (video bisa berbicara lebih keras),” ujar Hariwi.

Dia mulai suka memproduksi film sejak kelas 12 SMA. Saat itu film Catatan Akhir Sekolah (CAS) sedang booming. Lewat CAS itu, kini film dokumenter menjadi genre film yang disukainya.

Pria lulusan SMA 1 Tangerang Selatan tersebut mengatakan pemuda harus mengembangkan passion-nya. Hal tersebut bisa dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa.

Pada 2015, film dokumenternya Cerita Tentang Cak Munir meraih Penghargaan Piala Iqbal Rais pada Festival Piala Maya 2015. Dia juga mendapat penghargaan khusus dewan juri di Festival Film Indonesia kategori Dokumenter Panjang 2015.
Meski karyanya sudah pernah mendapat dua penghargaan sekaligus, tidak menjadikan Hariwi besar kepala. Dia masih melakukan produksi film dokumenter. Padahal film tersebut kadang berbiaya tinggi dan proses produksinya memakan banyak waktu.

“Sebenernya apapun genre film aku suka. Karena setiap genre punya keunikan sendiri, bahkan film eksperimental sekalipun. Banyakin ikut festival film. Penghargaan itu bonus,” kata Hariwi. (val/iwa/ong)