Realitas Sepak Bola Lokal Tak Kalah Menarik Perhatian

Genre penulisan sepak bola atau football writing di tanah air mulai menggeliat. Itu seiring dengan penetrasi internet dan media social. Lantas, apa dampaknya bagi sepak bola Indonesia ?
Rizal SN, Sleman
Salah satu yang bisa disebut pioner penulis langgam football writing di Indonesia adalah Sindhunata. Ia mulai menulis sejak tahun 1977 sebagai wartawan Kompas.
“Sebagai wartawan Kompas sebenarnya saya menulis semua tema, tidak hanya olahraga. Tapi ketika di Jakarta saya sering meliput kegiatan olahraga di Stadion Gelora Bung Karno, dulu disebut Stadion Senayan. Bersama fotografer almarhum Kartono Riyadi,” ujar Sindhunata.
Tulisan Romo Sindhu biasanya mengangkat tema yang dekat dengan masyarakat atau human interest. Tidak terkecuali jika menulis sepak bola. Tulisan sepak bola tersebut juga kadang dibungkus dengan tinjauan filosofis dan sosiologis. Namun juga kegemarannya menulis sastra memengaruhi gaya tulisan pria yang lama menetap di Jerman tersebut.

Bahkan saat mengambil studi S3 filsafat di Jerman, dia kerap menyaksikan pertandingan Bundesliga. Dengan bermodalkan kartu mahasiswa dia hanya cukup membayar dengan uang koin 5 Mark.

Menulis sepak bola waktu itu menurutnya masih bermodalkan analisis dari menonton televisi. Ditambah dengan literatur dari beberapa buku dan kliping koran untuk statistik. “Belum selengkap saat ini. Kalau tidak ada pasion tentu tidak bisa. Di Kompas saya melangkah lebih jauh tidak sebatas pertandingan dan statistik, tapi tidak di luar kerangka bola. Meskipun meletakan minat sastra dan filosofi dalam tulisan bola,” tuturnya.

Hal berbeda dialami Eddward S. Kennedy, yang menulis buku Sepak Bola Seribu Tafsir. Menurut alumni Analisis Kebijakan Pendidikan UNY itu, menulis di era digital saat ini relatif lebih mudah.

Meskipun tetap diperlukan ketekunan dalam mencari bahan di internet. Selain itu, ketersebaran tulisan juga lebih mudah dan cepat. Demam timnas sejak munculnya Irfan Bachdim dkk di Piala AFF 2010 juga mendorong berkembangnya football writing di Indonesia.

“Termasuk buku Sepakbola Seribu Tafsir adalah kumpulan tulisan esai sejak mulai menulis di situs Bolatotal waktu itu. Diterbitkan karena biar tidak jadi arsip digital. Ada sedikit revisi dan penambahan artikel baru. Tema sepak bola tidak melulu sepak bola. Namun juga banyak tentang hal-hal terjadi di luar lapangan,” beber Edo, sapaannya.

Sedangkan mantan jurnalis BBC Yusuf Arifin menyebut, dengan banyaknya penulis dan pegiat percetakan buku sepak bola maka akan membuka pasar lebih luas. Sehingga persoalan pemahaman sepakbola tidak hanya sebatas permainan.

“Namun ada bisnis, ideologi, kesetiaan klub dan kesadaran membantu perkembangan sepak bola. Itu juga yang terjadi di negara-negara maju sepak bola,” ungkap pria yang hampir 15 tahun tinggal di bekas cikal bakal klub Arsenal di London Inggris tersebut.

Karena itu, mulai banyaknya kesadaran penulisan esai sepak bola, dia meyakini akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan sepak bola di Indonesia.

“Begitu melihat literasi sepak bola itu tinggi, biasanya negara itu persepakbolaanya maju. Tapi tidak bisa berbicara satu dua tulisan. Tapi harus gerakan kultural kemudian lambat laun akan membangkitkan gerakan sepak bola. Jadi harus banyak,” ungkapnya pria yang kerap disapa Dalipin tersebut.

Dia mencontohkan, regulasi penggunaan pemain muda di tiap klub di Indonesia-meskipun awalnya kontroversial- sedikit banyak menurutnya karena ada kesadaran untuk melakukan regenerasi. Pengembangan pemain usia muda.

“Ada kesadaran serius membuat sebuah kompetisi dan pembinaan jenjang umur yang efektif. Darimana federasi mendapat ide dan gairah itu ? salah satunya dari demikian banyak tulisan menginspirasi federasi pelatih dan tokohnya. Indra Sjafri selain menulis saya yakin dia juga gemar membaca,” paparnya.

Tak hanya itu, tulisan-tulisan yang berasal dari suporter atau di luar media menstrim juga dapat menjadi penyeimbang. Yakni antara sisi kelam dan negatif sepak bola nasional dengan perkembangan yang positif.

“Ada imbangan lain yang tidak melulu hal-hal yang tidak benar. Banyak hal positif tertulis. Saya mendorong kalau mau menulis, tulislah di sekitar anda apa yang terjadi. Justru itu yang diperlukan. Realitas sepakbola lokal yang sedang terjadi justru akan banyak pelajaran yang dapat diambil,” ujar penulis buku Dongeng Negeri Bola itu. (din/ong)