SLEMAN – Sungguh apes nasib AKW. Berniat kerja di Salon Sri Dewi Asih Massage and Spa yang terletak di Mulungan Kulon, Mlati, Sleman, gadis 15 tahun itu justru menjadi korban prostitusi. Siswi kelas IX SMP itu dipaksa melayani pria hidung belang oleh tersangka, HRY,32, pemilik salon esek-esek tersebut. Ironisnya, AKW hanya diberi upah Rp 10 ribu setiap kali selesai berhubungan badan dengan pelanggan.

Sementara tersangka mematok tarif Rp 160 ribu kepada setiap konsumen. AKW sendiri tak menyangka bakal diperlakukan seperti itu oleh tersangka. Sebab, awalnya dia hanya diminta melayani konsumen untuk pijat dan creambath.

Atas perbuatan bejatnya itu kini HRY harus mendekam di sel prodeo Polda DIJ. Warga Triharjo, Sleman, itu dijerat pasal berlapis. Yakni Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dan pasal 83 Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014. “Tersangka diancam pidana penjara maksimal 15 tahun,” ujar Retno Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kompol Retnowati kemarin (17/10).

Dikatakan, kasus perdagangan anak tersebut terungkap berkat laporan masyarakat di sekitar salon milik HRY. Dari penyelidikan, tersangka terbukti telah melakukan tindakan perdagangan manusia dengan mempekerjakan dan memaksa anak di bawah umur untuk melakukan perbuatan asusila.

Penyidik mendapatkan bukti visum adanya kerusakan organ intim korban akibat tindak kekerasan seksual. Di salon milik tersangka polisi juga mendapati barang bukti lain berupa 45 buah kondom berbagai warna, sembilan kondom bekas, sepuluh buah pelumas, dan tisu. Aparat juga menemukan empat botol anggur merah, satu di antaranya masih terisi. “HRY kami tetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil visum yang diperkuat keterangan saksi-saksi,” jelasnya.

Lebih lanjut Retno mengungkapkan, hubungan tersangka dengan korban tak sebatas bos dan anak buah. Mereka sebelumnya sudah saling kenal. Bahkan keduanya pernah tersandung kasus pencurian di sebuah toko di kawasan Wirobrajan, Kota Jogja.
Awal AKW menjadi korban eksploitasi tersangka ketika dia kabur dari rumah pada Juli lalu. Saat itu korban bertemu anak tersangka yang kemudian mengajaknya ke salon esek-esek tersebut. “Saat itulah korban ditawari bekerja di sana (salon),” katanya.

Karena masih berstatus pelajar, tersangka memperbolehkan korban bersekolah sejak pagi hingga siang. Pulang sekolah korban langsung bekerja di salon. Namun pada malamnya korban selalu diminta melayani tamu pria yang ingin mendapatkan layanan plus-plus. “Saat malam itulah korban dipaksa berhubungan intim dengan tamu salon,” bebernya.
Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Hadi Utomo menambahkan, korban sudah beberapa bulan bekerja di Salon Sri Dewi Massage and Spa. Modus yang dilakukan tersangka sengaja mengeksploitasi anak di bawah umur untuk keuntungan pribadi.

Menurut Hadi, AKW sebenarnya selalu berontak saat dipaksa melayani pria hidung belang. Bahkan, korban kerap hanya berdiam diri sampai tamunya pulang karena menolak berhubungan badan. Namun, tersangka selalu memaksa korban memakai kondom yang memang disediakan di salon. “Korban selalu dimarahi tersangka kalau tidak mau melayani tamu,” ungkap polisi yang sebelumnya menjabat Pemeriksa Utama Pusinafis di Bareskrim Mabes Polri. (bhn/yog/ong)