BANTUL- Kemenangan 2-1 atas Madiun Putra FC di Stadion Sultan Agung kemarin (9/8) membuat posisi PSIM naik ke peringkat 3 klasemen Grup 5. Poin Mataram Knight- julukan PSIM Jogja kini hanya berselisih 2 angka dari Martapura FC yang sementara di posisi runner up.

Namun, raihan poin penuh di kandang kemarin harus dibayar mahal setelah pemain tengah Raymond Tauntu, dikartu merah di menit 68. Pemain bernomor 18 diusir wasit Dwi Purba Adi Wicaksana, karena dinilai melakukan provokasi terhadap pemain lawan. Dengan kartu merah tersebut, Raymond harus absen di laga krusial melawan Persebaya 16 Agustus mendatang.

Mataram Knight, sebenarnya menguasai jalannya pertandingan hingga menit 60. Di babak pertama, selain gol Rangga, PSIM sudah unggul lebih dulu melalui sundulan Krisna Adi di menit 21 hasil crossing, Riskal Susanto.

Setelah bermain dengan 10 orang pemain, PSIM Jogja lebih banyak bertahan. Riskal yang terbawa emosi, posisinya digantikan oleh Ayub Antoh. Dicky Prayoga yang bermain ciamik pun posisinya digantikan pemain bertahan Diaz Bayu di menit 75. “Mentalitas pemain labih. Seharusnya mereka tidak perlu terpancing emosinya karena posisi sudah unggul,” jelasnya.

Setelah bermain dengan 10 pemain, Erwan menginstruksikan skuadnya untuk bertahan total. “Akhirnya kita hanya menunggu serangan lawan, sambil sesekali menyerang,” jelasnya.

Beruntung bagi PSIM Jogja, yang hanya kebobolan satu gol dari kaki pemain pengganti Fikri Imawan. Tendangan dari luar kotak 16 besar, pemain pengganti tersebut meluncur deras ke sudut kiri dari jala kiper Ivan Febrianto.
Pelatih Madiun Putra FC Sartono Anwar menyebut kekalahan timnya kali ini karena bermain kurang cerdas dari tim tuan rumah. “Kami kalah strategi dengan PSIM. Kami akui di babak pertama mereka unggul atas tim kita,” katanya.
Kekalahan atas PSIM Jogja, keluhnya, tak lepas daro kepemimpinan wasit yang dinilai banyak memihak tuan rumah. “Kami sedikit dirugikan wasit,” keluhnya.

Meski unggul jumlah pemain, pelatih senior ini menilai para pemainnya bermain dengan penuh emosi. Akibatnya, meski mampu menguasai jalannya permainan, tidak mampu menghasilkan gol yang bisa membalikkan keadaan.”Anak-anak banyak yang ingin bikin gol. Mereka ingin jadi pahlawan semua, sehingga bermain dengan emosi,” tandasnya.

Seperti diketahui laga melawan Madiun Putra menjadi momen tersendiri bagi Erwan. Sebab, besok dia harus berangkat ke Sawangan Depok, untuk mengikuti kursus kepelatihan C AFC. Sehingga Erwan akan absen saat melawan Persebaya. “Saya sudah koordinasikan dengan tim pelatih apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Gelandang serang Rangga Muslim, menunjukkan loyalitasnya kepada PSIM Jogja dengan tampil maksimal di laga melawan Madiun Putra FC di Stadion Sultan Agung (SSA) kemarin (9/10). Pemain bernomor punggung 15 tersebut kembali menyumbang satu gol untuk kemenangan Mataram Knight-julukan PSIM JOgja 2-1 atas tim tamu.

Ya, sampai dengan jendela transfer ditutup, Rangga tetap menyatakan kesetiannya terhadap PSIM Jogja. Bahkan gagal bergabung dengan Persebaya Surabaya, tidak mempengaruhi konsentrasi permainan di dalam lapangan.

Gol Rangga ke gawang Blue Force- julukan Madiun Putra FC merupakan gol keduanya. Kedua gol Rangga, justru hadir saat isu kepindahannya ke Bajul Ijo -julukan Persebaya- berhembus kencang.

Memanfaatkan umpan heading Dicky Prayoga, pemain asal Bima, Nusa Tenggara ini memperlebar keunggulan 2-0 di menit 34. Rangga, benar-benar menjadi motor serangan PSIM Jogja selama 90 menit. “Ini pertandingan luar biasa. Saya benar-benar termotivasi untuk bisa membawa tim ini lolos ke 16 besar,” jelasnya.

Diakui oleh Rangga, dia memang sempat mendapatkan tawaran dari Persebaya. Namun, dia menyerahkan transfer tersebut kepada klub. Dia pun menerima segala keputusan klub untuk tetap bertahan di klub ini. “Atas dorongan keluarga, pelatih dan teman di tim saya bertekad bertahan dan memberikan yang terbaik,” jelasnya.(bhn/din/ong)