PEKALONGAN – Jalan terjal harus dilalui PSS Sleman untuk melangkah mencapai target promosi. Apalagi setelah sanksi federasi dengan tidak dibolehkannya suporter masuk stadion sebanyak empat kali. Ujian partai ke sepuluh di grup 3 Liga harus dilewati Busari dkk di Stadion Hoegeng, Pekalongan, sore ini.

Banyak pelatih lain bilang, ribuan pendukung PSS yang selalu mendampingi kemanapun tim bermain membuat pemain lawan gentar. Teror melalui chants dan nyanyian sepanjang laga bisa meruntuhkan mental pemain lawan. Namun sekarang, Super Elang Jawa harus bermain sendirian tanpa pemain kedua belas mereka. Di sinilah mentalitas pemain sebenarnya diuji.

“Dukungan suporter keuntungan sendiri bagi tim. Mereka sudah terlibat dalam suatu tim. Menunjang lajunya prestasi. Memberikan spirit dan motivasi di lapangan,” kata pelatih PSS Freddy Muli kepada Radar Jogja kemarin.

Dengan tidak adanya Brigata Curva Sud dan Slemania di tribun stadion sedikit banyak mempengaruhi psikis pemain. Sebab pemain dan suporter sudah seperti menyatu menjadi sebuah kesatuan tak terpisahkan. “Kami butuh dukungan mereka. Tapi tanpa mereka kami akan tetap semangat untuk meraih poin. Seperti ujian, kalau lulus kami akan naik kelas,” tuturnya.

Ya, bukan waktunya untuk mengeluh dan menye-menye. Tapi waktunya membuktikan bahwa pemain mempunyai mental kuat dan memang layak jika nantinya memang lolos ke fase berikutnya. Bukan semata karena adanya ribuan suporter di belakang mereka.”Kami harus terus kerja keras. Hasil 4-0 kemarin bukan lagi jadi patokan. Mereka main di kandang tentu akan main ngotot untuk menang,” ujar Freddy terkait Persip Pekalongan.

Kerja keras yang dimaksud salah satunya mengganti strategi di tengah pertandingan jika telah diantisipasi lawan. Seperti ketika lawan terlalu banyak menumpuk pemain di belakang dan menerapkan skema defensif. “Harus terus putar otak agar bisa membongkar pertahanan lawan. Terus kreatif dan cari inovasi bermain,” tuturnya.

Hal itu merujuk seringnya PSS disiarkan televisi dan sehingga strategi Busari dkk mudah diantisipasi. Termasuk kerja sama Dirga Lasut dan Riski Novriansyah yang kerap mendulang gol mulai dimatikan lawan. Beruntung, datangnya Dave Mustaine dan Mardiono membuat permainan lebih berwarna dan bervariasi.

Freddy juga lagi demen menggunakan skema tiga bek di belakang dengan hadirnya Hisyam Tolle. Menemani Waluyo dan Arie Sandy. Busari bisa menjaga kedalaman dan beban motor serangan dikerjakan Dave dan Dirga Lasut. Ujung tombak Riski Novriansyah juga selain sebagai target man juga bisa mengelabuhi dengan menarik pemain belakang menempelnya.

Lalu seketika lini kedua masuk memberikan tusukan. Sehingga tak heran jika gelandang serang Dirga Lasut sangat produktif sejauh ini dengan 7 gol. Disinggung apakah akan kembali pesta gol seperti pertemuan pertama lalu, Freddy kali ini lebih mementingkan memetik poin ketimbang berpikir cetak banyak gol. “Ambil poindulu lah. Pemain juga harus lebih tenang dalam finishing kalau mau gol banyak,” ungkapnya.

Pelatih Persip Pekalongan Didik Listyantoro mengatakan, dengan atau tanpa suporternya PSS tetap tim bagus puncaki klasemen. Menurutnya, walaupun suporter tidak ikut tandang tidak akan mempengaruhi permainan mereka.”Yang jelas Persip siap revans dan tidak mau kalah 4-0 seperti dulu. Taktik, fisik, mental kami sudah lebih siap. Harus tampil bagus di depan publik sendiri untuk dapat poin penuh,” bebernya. (riz/din/ong)