JOGJA – Pemprov DIJ akan merancang zonasi angkutan tradisional seperti becak dan andong di kawasan wisata. Zonasi awal di kawasan Malioboro dan selanjutnya dilakukan pemetaan di kawasan potensial wisata.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DIJ Gatot Saptadi mengatakan, implementasi di lapangan harus melalui beberapa tahap. Salah satunya Peraturan Gubernur meski Peraturan Daerah (Perda) Angkutan Tradisional Becak dan Andong telah disahkan pada 2016 lalu.

“Esensi Perda itu menyelamatkan angkutan tradisional,” ujarnya kemarin (21/2). Sebagai pendukung pariwisata, nantinya angkutan tradisional itu sendiri akan didesain lebih “Jogjani” dan berbasis lingkungan.

Selain mempersiapkan visual yang lebih menarik, juga mempersiapkan edukasi atau pelatihan bagi para pelaku. Dengan harapan, angkutan tradisional akan memberikan nilai lebih dari Jogja.

“Mungkin diawali di kawasan Malioboro, sedangkan kawasan lainnya kami lihat dulu. Yang jelas akan jadi angkutan jarak dekat di seputaran kawasan wisata saja,” ujarnya.

Kabid Angkutan Darat Dinas Perhubungan DIJ Agus Harry Triono menambahkan, implementasi dari Perda itu akan dilakukan bertahap tahun 2017-2018 ini. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membuat sebuah korporasi atau wadah sehingga ada standar bagi pelaku angkutan tradisional. “Selama ini kan mereka jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Ketua Asita DIJ Sudiyanto mengatakan, adanya zonasi angkutan tradisional di kawasan wisata akan menjadi kesan positif tersendiri bagi wisatawan. Namun, sarana dan prasarananya harus dipersiapkan betul, termasuk pelaku atau sumber daya manusia (SDM) yang akan bersinggungan atau melayani langsung para wisatawan.

“Mereka harus dibekali dengan hospitality. Jangan sampai karena mereka diperlukan terus pasang harga nuthuk,” ujar pria yang akrab disapa Udhi ini.

Menurutnya, implementasi di lapangan tidak perlu dilakukan terburu-buru. Namun yang terpenting menyiapkan sarana, prasarana, dan SDM sehingga nantinya bisa meminimalisasi permasalahan yang bisa muncul, misalnya tidak berbenturan dengan angkutan lain. (dya/laz/mg2)