RADARJOGJA.CO.ID – Para petani lahan pasir Desa Garongan, Kecamatan Panjatan menggelar tradisi baritan, Minggu (19/2). Kegiatan ini sebagai penanda dimulainya masa tanam cabai oleh masyarakat setempat.

Tradisi baritan dilakukan di lahan tanam yang diikuti para petani penggarap dari tiga wilayah pedukuhan. Tujuannya memohon ridha Tuhan agar proses tanam berjalan lancar dan mendapatkan hasil melimpah.

“Kami berdoa untuk keselamatan dan hasil panen yang melimpah,” kata Humas Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo Widodo, Minggu (19/2).

Luas lahan pantai di Desa Garongan mencapai 316 hektare, nantinya akan ditanami cabai merah keriting dan rawit setan. Proses tanam dilakukan serentak untuk memudahkan pengendalian hama.

“Jika tak ada aral melintang, panen perdana sekitar 65 hari ke depan. Adapun pemetikan selama masa panen raya nantinya dimungkinkan hingga 15 kali sebelum masuk masa tanam berikutnya,” jelas Widodo.

Dikatakan, dengan luas lahan tersebut target hasil panen bisa mencapai 15 ton hingg 180 ton cabai jika mendasarkan pada data di pasar lelang dan pengepul. Kisaran harganya stabil di angka Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per kilogram untuk cabai merah keriting dan kisaran Rp 80 ribu untuk cabai rawit setan di tingkat petani.

“Kami juga berharap harga jual panenan nanti bagus dan menguntungkan tanpa mencekik konsumen seperti terjadi belakangan ini. Di tingkat petani sebenarnya tidak terlalu tinggi. Hanya saja, ketika sudah sampai di tangan tengkulak, harganya kerap melambung,” kata Widodo.

Petani cabai dari Pedukuhan II Garongan, Burhanudin mengungkapkan lahan pasir memiliki keunggulan untuk budidaya cabai. Salah satunya tidak terpengaruh curah hujan tinggi maupun kondisi cuaca ekstrem. Daya tahan tanaman juga lebih bagus dibanding cabai yang ditanam di lahan persawahan karena serangan hamanya minim.

“Penggunaan pupuk juga lebih sedikit namun dengan tumbuh kembang tanaman cepat. Warga lebih sering menggunakan pupuk kompos dibanding pupuk kimia. Lahan pasir juga cenderung bebas banjir karena air langsung terserap pasir. Memang setiap hari harus disiram dan butuh biaya tak sedikit,” ungkap pemilik lahan seluas 3.500 meter persegi ini.

Namun begitu, kata Burhanudin, karakter lahan tersebut sangat menguntungkan petani. Warna cabai lebih mengilap serta tahan serangan hama maupun perubahan cuaca. Sepetak lahan bisa menghasilkan 70 kuintal cabai sekali petik.

“Hasilnya tergantung kondisi tanaman. Kalau harga, sebagai petani naik turun itu sudah biasa, hanya saja kami berharap bisa bagus dan standar saja. Kalau terlalu mahal juga tidak baik, karena konsumen kesulitan membelinya,” kata Burhanudin. (tom/iwa/mar)