KARANGANYAR – Sejak Jumat (10/2) aktivitas warga di Dusun Kerten, Jantiharjo, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar mulai meningkat.

Sebuah pikap tampak parkir di sisi barat situs Perjanjian Gianti, sejurus kemudian sejumlah warga mendekat untuk menurunkan beberapa peralatan dari bak belakang. Sebagian lainnya sibuk mengusung pipa dan seng untuk memasang tenda yang ukurannya cukup besar.

“Untuk acara Minggu (12/2), malam tirakat memperingati Perjanjian Gianti,” kata Hadi Siswanto, warga yang tinggal di sisi barat situs.

Menurut pria berusia 62 tahun ini, acara malam tirakatan adalah inisiatif warga setempat tiap tahun. Untuk memperingati napak tilas Perjanjian Gianti. “Prosesi pengetan napak tilas selalu dipusatkan di sini (situs Perjanjian Gianti). Ada juga merti desa atau panenan yang diadakan di masing-masing dusun,” jelas Hadi, yang menjadi warga Kerten sejak sepuluh tahun lalu.

Hadi tidak tahu persis sejauh mana keterlibatan pihak Keraton Jogja dan Keraton Solo dalam kegiatan tahunan ini. Mengingat Perjanjian Gianti yang berlangsung 262 tahun lalu, tepatnya 13 Februari 1755, merupakan perjanjian pembagian wilayah kekuasan kedua kerajaan yang semula bernama Mataram.

“Setahu saya ini semua inisiatif warga sini dan ada sedikit bantuan dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Kalau dari keraton kok sepertinya nggak ada sama sekali,” katanya lugu.

Hal itu dibenarkan Ngadimin Ireng, sesepuh Desa Jantiharjo. Pensiunan pegawai pertanian Kabupaten Karanganyar ini menuturkan, tirakatan Perjanjian Gianti sudah menjadi agenda tahunan milik warga sekitar.

“Memang tak semua tahu Perjanjian Gianti. Tapi dengan senang hati mereka memperingatinya,” ujar Ngadimin ditemani Ronggo, salah seorang panitia yang siang itu mengenakan kaus hitam berlogo Hobo Keraton Jogja dengan angka tahun 1755.

Tadi malam, acara tirakatan berlangsung hidmat. Bupati Karanganyar Juliyatmono tampak hadir di tengah warga.

Dalam kesempatan itu Juliyatmono berjanji akan meelakukan rehabilitasi lingkungan petilasan Gianti. “Biar lebih bersih dan terang, sehingga tidak tampak wingit,” ujarnya.

Kesakralan malam tirakatan semakin kental saat dua gunungan lanang dan wadon diusung oleh para pemuda dari kediaman ketua RW setempat menuju petilasan Perjanjian Gianti. Bregada gunungan semuanya mengenakan kaos hitam berlogo Hobo Jogja 1755. Gunungan lanang berisi aneka jenis sayuran, sedangkan gunungan wadon bertahtakan janganan. Setelah didoai, isi gunungan lantas diperebutkan oleh warga.

Sejauh mana nasib situs Perjanjian Gianti dan persepsi apa di balik benak warga yang tinggal di sekitar situs itu? Tunggu liputan khusus Radar Jogja. (man/jko/yog/ila/mg2)