MUNGKID – Para petani sayuran di Desa Kaponan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, mengalami gagal panen karena faktor cuaca yang tidak mendukung. Mereka pun mengharapkan bantuan pemerintah setempat untuk ikut memikirkan hal ini.

Desa Kaponan sendiri merupakan salah satu desa yang menjadi sentra penghasil sayur-sayuran di Kecamatan Pakis. Belakangan para petani di desa ini mengeluh karena gagal panen. Diawali gagal panen cabai, kini juga merugi akibat gagal panen sayuran.

Darni, 45, salah seorang petani mengakui gagalnya panen masih diakibatkan oleh faktor cuaca yang tidak mendukung. Selain itu juga minimnya obat-obatan yang dipakai dalam menanam sayur-sayuran itu.

“Semakin mahalnya obat-obatan yang digunakan dalam menanam, menjadikan para petani memilih untuk menanam dengan cara seadanya,” ujarnya.

Dikatakan, ada perbedaan mencolok yang petani rasakan. Sekitar dua bulan belakangan banyak petani cabai mengalami gagal panen, sehingga mengakibatkan harga cabai melambung sangat tinggi hingga di kisaran harga Rp 100 ribu per kg. Tetapi sangat berbeda dengan petani kol (kobis) dan sawi yang tidak mungkin menaikkan harga sampai angka sangat tinggi.

Istrisilah, 35, petani lain menjelaskan, sebenarnya sudah sering ada penyuluhan yang diadakan Dinas Pertanian Kabupaten Magelang. Tetapi yang petani keluhkan adalah harga obat dan vitamin pada sayuran yang semakin mahal.

Para petani di desanya sering menanam sayuran dengan teknik tumpang sari, di mana dalam satu petak tanah terdapat dua macam tanaman. Sistem ini bertujuan untuk bisa lebih memanfaatkan lahan agar lebih maksimal. (cr2/laz/mg2)