SLEMAN – Pemkab Sleman terus mendorong terbentuknya desa tangguh bencana (destana). Itu mengingat hampir semua wilayah Bumi Sembada merupakan kawasan potensi bencana.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menuturkan, setiap individu sebisa mungkin paham ilmu dan keterampilan mitigasi bencana. Terlebih, Sleman mengusung konsep living in harmony with disaster. Artinya, warga hidup berdampingan dengan bencana alam.

“Konsep ini jangan hanya jadi jargon. Masyarakat harus sadar akan potensi bahaya di lingkungan masing-masing. Selanjutnya, mempelajari dan menerapkan langkah antisipasi dan penanganannya,” tegas Muslimatun di sela gladi lapang destana di Lapangan Macanan Bimonartani Ngemplak Sleman kemarin (6/2).

Dikatakan, kecepatan bertindak perlu didukung kesigapan dan pengetahuan. “Kuncinya, jangan panik. Itulah mengapa pengetahuan tentang kebencanaan sangat penting,” tandasnya.

Mitigasi bencana membutuhkan peran setiap warga. Ada tim komunikasi, dapur umum, logistik, barak pengungsian, keamanan, dan kesehatan. Menurut Muslimatun, peran itulah yang perlu dipahami setiap warga. “Saat ada bencana tidak perlu menunggu komando. Masing-masing menjalankan peran sesuai dengan pembagian tugas. Sebisa mungkin meminimalkan adanya korban, kalau bisa zero victim,” imbaunya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Joko Supriyanto mengatakan, saat ini telah terbentuk 26 destana.

“Setiap destana dilengkapi perangkat alat radio panggil untuk memudahkan koordinasi lapangan,” katanya.

Sementara Sekretaris BPBD DIJ Heru Suroso mengigatkan, keterlibatan warga dalam kegiatan mitigasi bencana sangat diperlukan. Hal itu guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. Warga destana diharapkan mampu memetakan potensi bencana di wilayah masing-masing. Sekaligus mencari solusi serta menekan jumlah korban dan kerugian material.

“Sleman itu wilayahnya sangat luas, setiap desa memiliki potensi bahaya yang berbeda-beda. Karena itu perangkat desa dan warga perlu dibekali keterampilan mitigasi bencana,” jelasnya.

Beberapa jenis bencana yang kerap terjadi, di antaranya, tanah longsor, angin kencang, banjir, hingga siklus erupsi Gunung Merapi. “Bahaya sekunder erupsi Merapi juga berbahaya. Bimomartani termasuk wilayah terdampak langsung lahar hujan,” jelasnya.(dwi/yog/mg2)