RADARJOGJA.CO.ID – BANTUL – Suntikan dana keistimewaan (danais) selama beberapa tahun terakhir ternyata belum sepenuhnya mampu mengangkat pamor kesenian tradisional di wilayah Bantul.

Faktanya, hingga sekarang pementasan kesenian tradisional, seperti wayang, ketoprak, maupun karawitan seolah selalu menunggu ‘uluran tangan’ danais. Sebab, seni tradisional tak begitu diminati, khususnya oleh kalangan pemuda. Karena itu, jarang pula yang mau menyelenggarakan dengan kocek pribadi.

Hal tersebut diungkapkan Edy, pemerhati sekaligus pelaku kesenian karawitan saat sarasehan budaya di Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Rabu (4/1).

Hadir sebagai narasumber dua anggota Komisi B DPRD Bantul, Jumakir dan Suratman.

Edy tidak menampik eksistensi berbagai kesenian tradisional selama beberapa tahun terakhir memang jauh lebih baik. Termasuk kesenian karawitan. Berbeda jauh dibanding kurun waktu 2009 hingga 2012. Di mana, dalam rentang waktu tiga tahun tersebut minim pementasan kesenian kebudayaan.

Hanya, maraknya pementasan kesenian tradisional belakangan karena disokong danais. Dengan kata lain, para pelaku kesenian masih menyusu anggaran dari pemerintah.

“Kalau nggak ada pemerintah, ya, nggak ada yang nanggap,” ucapnya.

Edy menegaskan, kondisi ini tidak bisa diabaikan. Dibutuhkan sentuhan dingin untuk mendorong pamor kesenian tradisional di tengah masyarakat. Mengingat, para pelaku kesenian juga membutuhkan penghasilan sehari-hari.

“Bagaimana caranya masyarakat tertarik nanggap,” tuturnya.

Hal berbeda diungkapkan anggota Forum Ketoprak Muda Bantul (FKMB) Nuryanto. Menurutnya, sentuhan anggaran danais masih dibutuhkan para pelaku kesenian ketoprak. Dukungan anggaran pementasan dari danais dibutuhkan untuk merangsang potensi bibit-bibit muda. “Semoga di 2017 ploting anggaran untuk pentas ketoprak besar,” harapnya.

Dalam kesempatan itu Jumakir menyatakan maklum dengan persoalan yang dihadapi para pelaku kesenian.

Menurutnya, minimnya minat masyarakat menyelenggarakan pentas secara pribadi lantaran tingginya biaya. Ketoprak, misalnya. Butuh biaya Rp 7 juta – Rp 10 juta sekali pentas.

“Beda dengan hiburan rakyat seperti dangdut. Electonan saja sekali pentas hanya Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta,” bebernya.

Sebagai solusinya, politikus PPP ini menyarankan para pelaku kesenian lebih sering berkoordinasi dengan para pengelola objek wisata. Agar pengusaha destinasi wisata bersedia mengakomodasi pelaku seni untuk menghibur pengunjung. “Seperti di Bali. Pelaku kesenian dibayar pengelola wisata,” ungkapnya.

Dikatakan, di APBD 2017 Pemkab Bantul memperoleh kucuran danais hingga Rp 54 miliar. Dia berharap danais mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan pamor kesenian tradisional di Bumi Projotamansari. (zam/yog/mar)