JOGJA – Sudah dikenalkan sejak beberapa tahun lalu, penggunaan uang elektronik atau e-money masih minim. Meski sebagian lembaga usaha, pendidikan maupun perkan-toran sudah menerapkannya.

Tapi, jumlahnya dinilai belum masif. Perlu sosialisasi ulang terhadap peng-gunaan e-money.

“Kendala yang biasa dihadapi berupa keterbatasan alat untuk transaksi maupun kesu-litan jika akan top-up (isi ulang) uang elektronik mereka,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santosa di sela pelun-curan gerakan “Cinta Istimewa Cinta Produk Indonesia” Senin (21/8).

Kalangan perbankan pun dimina memperbanyak alat Elec-tronic Data Capture (EDC) ataupun tabing dalam transaksi. Menurut Arief, dengan menyedia-kan alat tersebut sebenarnya memi-liki kelebihan.

Selain sisi keamanan, kepraktisan dari transaksi ini dapat mengefisiensikan pengeluaran masing-masing pengusaha. Selain itu juga tidak lagi menerima uang kembalian dalam bentuk barang. Hal itu karena dengan e-money, masyarakat tinggal membeli kar-tu dan mengisi ulang jika habis.

Menurutnya, e-money memiliki karakteristik yang berbeda dengan ATM ataupun e-banking. Pihak yang mengeluarkan juga berva-riasi, baik dari bank maupun non-bank. Ada pula dari perusahaan telekomunikasi.

“Masyarakat ha-rus tetap berhati-hati dan memas-tikan operator yang mengeluarkan,” pesannya. (pra/laz/ong)