Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-71 dilalui lapisan masyarakat dengan berbagai cara. Ada yang mengadakan upacara bendera di tepi tebing, di tengah-tengah sungai, hingga pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih dengan ukuran besar. Berbagai komunitas masyarakat juga tak mau kalah dalam merayakan kemerdekaan dengan berbagai aksi. Mulai dari lomba becak sampai pentas kolosal dan keliling kampung dengan sepeda onthel.

DI Gunungkidul, wisatawan yang tengah menikmati pantai menunjukkan kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menggelar upacara di lokasi tak biasa. Upacara HUT RI tersebut berlangsung di Watu Apit yang berada di kawasan Pantai Nglambor, Ngandong, Puwodadi, Tepus. Dinamakan Pulau Watu Apit lantaran jumlah pulaunya ada dua bagian dan mengapit lautan.

Upacara tahunan peringatan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia itu dimulai sekitar pukul 08.00. Peserta pengibaran bendera dipimpin oleh sesepuh penduduk setempat bernama Sawu, 75, atau lebih akrab disapa Mbah Mo.

Untuk bisa sampai pulau itu, peserta upacara harus berjuang terlebih dahulu. Puluhan peserta menaiki tebing kurang lebih sekitar ketinggian 150 meter. Untuk menuju pulau juga melewati deburan ombak.

Pekik “merdeka” bersautan diantara peserta upacara begitu sampai di atas tebing. Sejenak mata memandang, hamparan laut lepas terhampar. Desiran angin menyapu tubuh yang penuh dengan keringat.

Sesaat kemudian, upcara HUT RI ke-71 dimulai. Diawali dengan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya. Sampai pada menit akhir bait lagu, seluruh peserta upacara kompak berteriak “merdeka” saling bersautan. Satu per satu peserta upacara mencium bendera merah putih diiringi dengan doa yang dipimpin oleh tokoh agama.

“Itulah akhir dari upacara di tempat ini. Kami sengaja mengajak wisatawan untuk menjadi peserta agar mereka paham bahwa perjuangan merebut kemerdekaan itu tidak mudah,” kata panitia upacara Yusuf Aditya Putratama.

Menurut Yusuf Adhitya, peringatan upacara kali ini sederhana. Namun, dia berharap bisa berkesan khususnya bagi para peserta. Diakui, pelaksanaan di kawasan Pantai Nglambor sekarang sudah yang kedua kalinya. “Tahun lalu upacara di air laut,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peserta upacara Kartika mengaku terkesan bisa mengikuti kegiatan bersejarah tersebut. Jauh-jauh dari Pekanbaru, Riau untuk berlibur ke Gunungkidul mendapatkan kesempatan upacara di lokasi yang unik.

“Beruntung sekali ke Gunungkidul. Saya terharu saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pengalaman yang tidak terlupakan,” kata Kartika. (gun/ila/ong)