JOGJA- Instruksi DPP PDIP kepada DPC PDIP Kota Jogja untuk mencari sosok bakal calon (balon) wakil Wali Kota Jogja ternyata belum bisa menjadi garansi bagi Imam Priyono (IP). Sebagai satu-satunya kandidat balon wali kota yang akan memeroleh rekomendasi pengurus pusat partai pemenang pemilu 2014 itu.

Itu tak lepas dari sikap pengurus struktural tingkat daerah dan cabang partai berlambang banteng moncong putih, yang tak satu suara.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPC PDIP Kota Jogja Antonius Foki Ardianto mengklaim telah mengantongi surat tugas dari DPP untuk IP, selaku balon wali kota. Surat tersebut diserahkan oleh Ketua DPP PDIP Jarot Saiful Hidayat, Idham Samawi, dan Sri Rahayu. “Tugas utamanya, mengonsolidasi partai dan mencari balon wali kota,” tulis Foki melalui whatsapp kemarin (26/7).

Foki juga menyebut bahwa penyerahan surat tugas tersebut disaksikan ketua dan sekretaris DPD PDIP DIJ.

Ketua DPD PDIP DIJ Bambang Praswanto membantah semua keterangan Foki. Bambang menegaskan bahwa surat rekomendasi untuk balon Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Jogja belum turun.

Berdasarkan hasil rapat konsolidasi DPP belum mengerucut ke satu nama. Menurutnya, saat itu DPP hanya meminta DPD dan DPC tetap solid untuk mengamankan pemilihan kepala daerah serentah 2017. “Agendanya bukan untuk memberikan rekomendasi. Itu ada rapat sendiri nanti. Namanya rapat rekomendasi,” jelasnya.

Bambang mengatakan, surat rekomendasi berisi dua nama. Pasangan balon wali kota dan wakilnya. “Ini, kan seperti main kartu. DPP bisa jadi mengeluarkan kartu agar semuanya solid di menit-menit terakhir,” lanjut Bambang.

Dicontohkan, ketika rekomendasi pilkada Jawa Tengah. Kala itu surat untuk pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko turun sekitar pukul 19.00 di hari terakhir pendaftaran peserta pilkada di KPU Jawa Tengah. “Padahal waktu pendaftaran ditutup pukul 24.00,” paparnya.

Kendati demikian, Bambang member gambaran bahwa rekomendasi DPP akan jatuh pada nama-nama
yang telah mengikuti fit and proper test. Dengan begitu, IP harus beradu pamor dengan dua tokoh populer di Kota Jogja. Yakni, Arif Noor Hartanto dan Ahmad Syauqi Soeratno.

Bambang menegaskan, siapapun nama yang mendapatkan lampu hijau dari DPP wajib disokong oleh semua pengurus dan kader partai. “Mereka harus taat mengamankan rekomendasi dari DPP. Jika melenceng ancamannya langsung pecat,” tegasnya.

PDIP, lanjut Bambang, tak akan bersikap toleran terhadap kader yang membelot. Apalagi, hanya karena alasan nama yang dipilih DPP tidak sesuai dengan aspirasi arus bawah.

Terpisah, Imam Priyono enggan berspekulasi terhadap kesimpangsiuran informasi di internal PDIP. Mantan direktur utama PDAM Kota Jogja itu menyerahkan semuanya kepada DPC demi asa mendapatkan restu Megawati Soekarno Putri, selaku ketua umum DPP PDIP. “Saya, kan hanya petugas partai. Saya manut dawuh DPC seperti apa akan saya ikuti,” kata IP.(eri/yog/ong)