Zakki Mubarok/Radar Jogja
TERUS BERBENAH: Kolam renang milik Koperasi Mina Bahari 45 di kawasan Panti Depok, Bantul, yang dibangun dengan dana sekitar Rp 1,1 miliar.
BANTUL – Pelan, tapi pasti kawasan Pantai Depok terus berbenah. Wajah kawasan yang dulunya lekat dengan praktik prostitusi ini pun berubah total. Menjadi salah satu kawasan perekonomian di pesisir pantai selatan.

Menariknya, perputaran rupiah di kawasan yang dikelola Koperasi Mina Bahari 45 ini tidak hanya bertumpu pada satu usaha. “Yang masih baru, ya kolam renang ini,” ujar Ketua Koperasi Mina Bahari 45 Topo kemarin (17/7).

Kolam renang yang terletak di sebelah barat pintu masuk parkir Pantai Depok ini baru diresmikan Januari lalu. Ada dua kolam renang di dalamnya. Pertama, kolam renang untuk dewasa. Kolam yang didesain seperti lingkaran ini memiliki kedalaman sekitar 130 centimeter. Luasnya 16 meter x 25 meter.

Kedua, kolam khusus untuk anak-anak. Dengan kedalaman 50 centimeter serta luas 6 meter x 14 meter. Di kolam anak-anak tersedia juga fasilitas papan luncur.

Topo menjelaskan, fasilitas kolam renang mulai dibangun tahun lalu. Menelan anggaran sekitar Rp 1,1 miliar. Sebagai bukti kemandirian, 90 persen lebih anggaran pembangunan dari kocek koperasi sendiri. “Ada bantuan dari Kementerian Koperasi Rp 100 juta,” sebutnya.

Ide membangun fasilitas kolam renang tak terlepas dari banyaknya korban tenggelam di laut pantai selatan. Terutama di kawasan Pantai Parangtritis.

Topo menegaskan, keberadaan kolam renang untuk memfasilitasi para wisatawan. Agar mereka tak bermain air laut kala berada di kawasan Pantai Depok. “Saat libur panjang banyak wisatawan yang mandi di kolam,” ujarnya.

Kendati menelan anggaran yang tidak sedikit, Koperasi Mina Bahari 45 tidak mematok tarif mahal bagi wisatawan. Cukup dengan membayar retribusi Rp 10 ribu, wisatawan bisa bermain air sepuasnya di kolam renang.

Fasilitas yang tidak dimiliki kawasan obwis lain di Bumi Projo Tamansari. “Retribusi masuk ke kas koperasi,” ungkapnya.

Lurah Parangtritis ini menambahkan, fasilitas kolam renang kian melengkapi aset Koperasi Mina Bahari 45. Setidaknya ada beberapa aset besar lain penghasil rupiah yang dikelola koperasi. Di antaranya, pasar ikan, pabrik es, hingga tempat pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan. “Total aset baik uang maupun barang yang kami miliki sekitar Rp 8 miliar,” bebernya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kawasan Pantai Depok pada era 90-an. Topo menceritakan, kawasan Pantai Depok dulunya adalah salah satu sarang prostitusi di pesisir pantai selatan. Berbekal komitmen bersama, sejumlah warga setempat perlahan menata kawasan Pantai Depok. Kemudian, mereka mendirikan Koperasi Mina Bahari 45. Dampaknya, praktik prostitusi kemudian berangsung menghilang.

“Awal-awal duit koperasi dari iuran nelayan dan pedagang,” tambahnya. Anggota Koperasi Mina Bahari 45 Dardi Nugroho menambahkan, yang bernaung di bawah koperasi tidak hanya nelayan dan pedagang ikan. Pedagang asongan dan pemilik warung kuliner sea food di Pantai Depok juga berada di bawah bendera yang sama.

“Kalau jumlah total (anggota), ya ratusan. Wong pemilik warung kuliner sendiri sekitar 60 orang hingga 70 orang,” kata pemilik warung kuliner Salsabila 2 ini. (zam/laz/ong)