GUNAWAN/RADAR JOGJA
FAVORIT: Ribuan pengunjung terpaksa antre untuk mendapatkan giliran masuk ke Gua Pindul dengan cara menyusuri sungai memakai ban kemarin (6/5).
GUNUNGKIDUL – Tidak dijaga 24 jam, penarikan retribusi Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, tidak maksimal. Banyak pengunjung luar kota yang datang pada tengah malam sampai subuh tanpa membayar retribusi, karena penjaganya belum ada.

Padahal, jika dijaga 24 jam, penghasilan daerah dari retribusi wisata susur gua ini bisa maksimal. Libur panjang saat ini tidak dimanfaatkan penuh pemerintah desa (pemdes) Gua Pindul untuk menarik retribusi.

Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, wisatawan melintasi TPR sebelum petugas penarik retribusi datang. Dia turun lapangan di tempat pemungutan retribusi (TPR) Gua Pindul, kemarin (6/5).

Selama ini, kewenangan dan aturan retribusi ada di pemdes. “Wisatawan banyak yang tidak ditariki retribusi,” ungkapnya. Hary menyayangkan petugas TPR tidak menjalankan tugas dengan baik. Berjaga selama 24 jam sesuai dengan keputusan bupati tidak ditaati.

Dia meminta pemdes segera memperbaiki penarikan retribusi. “Kemarin kami ikut berjaga di TPR tembus retribusi Rp 12 juta,” kata Hary.

Wasdiyanto, penarik retribusi Gua Pindul, mengatakan sudah melakukan penambahan jam kerja. “Subuh tadi sudah buka. Biasanya penarikan dimulai jam 06.00 atau 07.00,” katanya.

Petugas TPR yang lain berdalih Gua Pindul tidak ramai setiap hari, sehingga tidak dijaga 24 jam. Puncak keramaian hanya pada momen tertentu saja, sehingga menyulitkan petugas berjaga penuh.

Anggota DPRD Gunungkidul Edy Susilo mengatakan, kejadian serupa tidak hanya terjadi di Gua Paindul saja. “Nanti eksekutif akan kami panggil,” kata Edy. (gun/iwa/laz