GUNAWAN/RADAR JOGJA
KEJAR KELULUSAN: Terjerat kasus pembunuhan, seorang pelajar terpaksa mengikuti ujian nasional di Rutan Kelas II B Wonosari, kemarin (4/4)
GUNUNGKIDUL – Seorang pelajar berinisial J terpaksa mengikuti ujian nasional (unas) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Wonosari. Mengenakan pakaian lembaga pembinaan khusus anak (LPKA), siswa tersebut tampak serius mengerjakan soal.

Kepala Keamanan Lapas Diki Susanto mengatakan, J merupakan warga Sleman yang menjadi warga binaan LPKA di Gunungkidul sejak 4 tahun lalu. J terjerat Pasal 338 tentang Pembunuhan.

“Dikenakan hukuman penjara selama enam tahun karena kasus pembunuhan terhadap ibunya,” kata Diki, kemarin (4/3).

Dia menjelaskan, kali ini J menjalani unas Kejar Paket C. J sendiri akan bebas pada 2018 mendatang. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia menjalani ujian di ruang belajar LPKA seorang diri.

“Pada saat mengerjakan soal unas, J dijaga dua orang penjaga dan dua orang guru pendamping,” ujarnya.

Menurut Diki, sebagai lembaga pembinaan anak yang memiliki tujuh orang warga binaan pihaknya memang sengaja tidak memberikan penjagaan berlebih. Tidak ada penjagaan khusus, penjagaan hanya dari dinas pendidikan dan dari rutan yang dilakukan secara bergantian.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rosyid mengatakan, selain pelajar ujian di rutan, juga ada siswa lain mengerjakan soal dengan dampingan khusus.

“Satu siswa asal SMAN 1 Rongkop mengalami permasalahan pada penglihatan sehingga harus mendapatkan pendamping,” kata Bahron.

Di bagian lain, untuk memastikan kelancaran pelaksanaan unas, Bupati Gunungkidul Badingah melakukan inspeksi mendadak (sidak). Dia lega, karena pelaksanaan unas berjalan tanpa ada hambatan.

“Kami menargetkan setiap tahun jumlah sekolah yang melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) bertambah,” kata Badingah.

Berdasarkan laporan, jumlah lembaga pendidikan yang menerapkan UNBK ada 35 sekolah. Rinciannya, SMAN 1 Wonosari, SMAN 2 Wonosari, SMAN 2 Playen, SMAN 1 Karangmojo, Madrasah Aliyah Negeri Wonosari, SMA Pembangunan 2 Karangmojo. Serta 29 SMK yang terdiri dari 13 SMK Negeri dan 16 SMK swasta.

“Keuntungan dari sekolah mengikuti ujian berbasis komputer ialah dari segi keamanan, pengawas sedikit dan penggunaan kertas kurang sehingga biaya lebih murah,” ujarnya.

Sementara itu, di Kota Jogja ada tujuh warga binaan lembaga pemasyarakatan yang mengikuti unas Kejar Paket B dan C. Dua orang di antaranya menjalani ujian, Senin (4/4).

“Iya, ada dua warga binaan yang kami ikutkan ujian Kejar Paket C,” terang Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wirogunan Zaenal Arifin kepada wartawan kemarin.

Dia menyebut kedua warga binaan yang menjalani ujian hari ini yakni P, 26, terpidana Pasal 365 KUHP atau kasus perampasan, serta seorang warga binaan lainnya berinisial S yang berada di lapas untuk kasus perlindungan anak.

“Khusus warga binaan S ini karena sudah akan berstatus bebas baru-baru ini, maka kami usahakan ikut ujian Kejar Paket C. Kalau tempatnya kita ikutkan di SMP 15 Jogja,” terangnya.

Adapun warga binaan lainnya yang juga mengikuti ujian nasional tahun ini tepatnya pada Mei mendatang terdiri dari seorang warga binaan yang tersangkut kasus Hello Kitty. Yaitu kasus penganiayaan terhadap pelajar putri yang dilakukan pelajar putri lainnya di Bantul, beberapa waktu lalu. Warga binaan ini akan ujian nasional Kejar Paket B.

“Sisanya, empat warga binaan nanti ujian di pertengahan tahun sembari menanti jadwal ujian nasional dari pemerintah,” sambungnya.

Ditanyakan terkait persiapan pelaksanaan ujian, Zaenal mengaku, pihaknya sudah melakukannya sebaik mungkin. Warga binaan yang melaksanakan ujian nasional akan ditempatkan di ruang atau bangsal klinik khusus. Sejumlah petugas juga disiagakan selama jalannya ujian.

“Pelaksanaannya di ruang klinik (bangsal klinik). Untuk pengawasnya dari Dinas Pendidikan Kota Jogja sebanyak dua orang, dan dua pamong yang merupakan petugas internal lapas,” tandasnya.

Sementara itu, di Sleman seorang warga binaan Lapas Cebongan, Agus Tri Sutanto, 20, juga mengikuti ujian nasional Kejar Paket C. Warga asal Tempel, Sleman yang tersangkut kasus asusila ini mengerjakan soal unas didampingi oleh pengawas ujian. (gun/riz/bhn/ila/ong)