PATAH: Kondisi Jembatan Api-Api di Pedukuhan Pasir Mendit, Temon, Kulonprogo yang putus akibat kelebihan beban Minggu (27/3) sore.

Pekan Depan Dibuka Kembali setelah Perbaikan Jembatan Api-Api

Ada objek wisata baru di Kulonprogo. Yakni wisata hutan mangrove di Pasi Kadilangu, Jangkaran, Temon. Apa keindahan yang ditawarkan dan bagaimana akses ke sana ?
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
Jembatan bambu di kawasan wisata hutan mangrove Api-Api pedukuhan Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo putus, Minggu petang (27/3).

Akibatnya, aktivitas pariwisata hutan mangrove yang baru dibuka selama sepkan itu terpaksa ditutup sementara hingga proses renovasi selesai.

Anggota Kelompok Wisata Hutan Mangrove Api-Api Purwo Sarjono, 65, warga Pedukuhan Pasi Kadilangu, Jangkaran mengatakan, jembatan bambu yang awalnya difungsikan untuk melintas para petambak udang itu patah di bagian tengah.

Saat kejadian ada sekitar 20 orang yang terjebak di antara jembatan yang patah. Diduga kuat jembatan tidak kuat menahan beban pengunjung yang kebetulan melintasi dari arah utara dan selatan dan berpapasan di tengah.

“Saat kejadian pengunjung melintas dari selatan. Sementara sejumlah petambak yang tengah membawa benur (benih udang, Red) melintas dai utara. Saat berpapasan di tengah jembatan tidak kuat lalu patah dan ambrol ke bawah,” kata Purwo, kemarin (28/3).

Dijelaskan Purwo, kondisi jembatan yang terbuat dari sasak bambu itu sebetulnya masih bagus. Beruntung saat kejadian air sungai yang terhubung langsung dengan muara sungai Bogowonto itu tengah surut. “Tidak ada yang luka atau jatuh ke sungai dan tenggelam. Orangnya masih tetap di jembatan, hanya basah dan kaget saja,” jelasnya.

Ditambahkan, jembatan itu dibuat sekitar tahun 2011 bersamaan dengan kemunculan tambak udang di lahan pasir sisi selatan sungai. Kondisinya sebetulnya kasih cukup kokoh. Karena warga khususnya petambak udang selalu melakukan perbaikan. “Jembatan itu awalnya difungsikan untuk aktifitas para petambak di sisi selatan sungai. Namun sepekan terakhir ini dibuka untuk wisatawan. Karena banyak yang tertarik untuk melakukan foto selfie dengan pemandangan alam yang cukup bagus dengan latar belakang hutan mangrove,” tambahnya.

Menurutnya, pengelola memutuskan untuk menutup sementara kawasan wisata hutan Mangrove Api-Api untuk perbaikan jembatan utama. Namun pengunjung sebetulnya masih bisa mengakses jembatan-jembatan kecil yang sudah dibuat pengelola membujur searah dengan sungai dan masuk ke kawasan hutan mangrove.

“Ada banyak jembatan kecil yang sudah kami buat baik membujur ke timur dan ke barat di tepian sungai dan masuk ke hutan mangrove. Kalau ada yang datang dari jauh kami arahkan kesana sementara. Karena pengunjungnya tidak hanya warga Kulonprogo dan DIJ saja. Banyak juga yang datang dari luar DIJ,” ujarnya.

Perbaikan diperkirakan tidak lama hanya sekitar sepekan. Rencana akan dibuka lagi setelah jembatan induk sudah selesai. Kenapa harus ditutup karena supaya tidak ada yang turun ke jembatan utama, dan proses perbaikan juga lebih tenang. “Kalau jembatan utamanya masih rawan dan bakal bahaya kalau mereka ingin turun. Tapi kalau yang di tepian gak ada masalah,” tambahnya.

Jembatan utama kawasan wisata Mangrove Api-Api lebarnya hanya 1,2 meter. Setelah kejadian ini akan dilakukan perbaikan total, lebarnya juga akan ditambah menjadi 1,5 meter. Untuk lantai jembatan juga akan diganti dengan papan supaya lebih aman seiring dengan semakin banyaknya pengunjung.

Purwo mengungkapkan, karena masih baru belum ada rambu-rambu khusus untuk batasan pengunjung melintas di jembatan. sejauh ini rambu-rambu baru larangan untuk berenang di sungai yang terhubung langsung dengan muara sungai Bogowonto itu. “Kemungkinan kami juga akan menambahkan informasi lain berkaitan dengan keselamatan wisatawan, seperti beban maksimal jembatan. Kalau perawatan jembatan itu sebetulnya sudah rutin, dikontrol kalau ada yang rusak atau apa. Kejadian kemarin karena ada penumpukan di tengah. Sehingga jembatan kelebihan beban,” ungkapnya.

Sementara itu, sejumlah wisatawan masih banyak berdatangan ke Jembatan Api-Api. Pihak pengelola maupun petambak pun menyampaikan kondisi jembatan utama yang rusak. Namun mereka masih mengijinkan pengunjung masuk dengan syarat tidak boleh nekat melewati jembatan rusak. Pengelola juga tidak menarik biaya apapun karena lokasi wisata baru itu masih dalam perbaikan dan ditutup sementara.

Sejumlah wisatawan tetap banyak yang datang kendati lokasi ditutup, mereka terlihat santai berkeliling dan menikmati keindahan hutan mangrove dengan melintasi jembatan kecil pendukung. Namun, tidak sedikit yang ragu karena takut. “Tadinya mau foto-foto di antara mangrove tapi katanya rusak. Jadi bingung mau masuk atau tidak,” ucap Ambar Inawati, pengunjung asal Magelang, Jawa Tengah.

Pantauan Radar Jogja di lapangan, obyek wisata alternatif baru berupa jembatan sasak bambu di antara keindahan hutan Mangrove di Pedukuhan Pasir Mendir, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo mulai bermunculan. Sedikitnya ada tiga titik kawasan wisata mangrove di pedukuhan tersebut.

Berada paling barat dikelola Kelompok Wisata Manatirta, ditimurnya Kelompok Wisata Lestari, dan berada di timur Kelompok Wisata Api-Api. Rencananya, di pedukuhan Pasir Kadilangu, juga akan dibuat objek wisata serupa. Letaknya berbatasan langsung dengan muara sungai Bogowonto. (din/ong)