BANTUL – Pemkab Bantul berencana meregrouping 20 sekolah dasar (SD) yang tak mampu memenuhi standar ideal jumlah rombongan belajar (rombel) dalam satu kelas. Alias kekurangan murid. Sebagian besar tersebar di wilayah pedalaman Kecamatan Dlingo, Imgogiri, dan Pajangan. Akibatnya, sekolah tak bisa memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan.

Kabid SD Dinas Pendidikan Dasar Slamet Pamuji menuturkan, regrouping menjadi solusi paling rasional. Agar siswa dan guru di sekolah tersebut memperoleh seluruh hak mereka sesuai amanat undang-undang. Keterbatasan jumlah siswa didik menyebabkan guru sulit memperoleh tunjangan prestasi. Sebab, salah satu syarat mendapatkan penghasilan tambahan tersebut, sekolah harus mampu memenuhi rasio minimal dalam proses belajar-mengajar. Yakni, 1 guru berbanding 20 siswa. Namun, rasio jumlah guru dan siswa di wilayah pedalaman sering tidak sebanding. Ada sekolah yang jumlah siswanya kurang dari 90 anak. “Bahkan, ada sekolah yang hanya dihuni 50 siswa,” bebernya tanpa merinci sekolah yang dimaksud kemarin (16/3). Menurut Slamet, standar ideal tiap rombel minimal diisi 20 siswa. Maksimal 32 anak didik.

Sebaliknya, di kawasan perkotaan banyak berdiri sekolah dengan kapasitas siswa melebihi standar ideal. Yakni, lebih dari 300 siswa. Jika dihitung berdasarkan jumlah siswa dan sekolah, rata-rata tiap SD seharusnya dihuni sedikitnya 200 siswa. Total ada 73.021 siswa yang tersebar di 365 SD di wilayah Bantul. Slamet mengakui jika persebaran siswa tak merata.

Slamet juga tak menyebut target pelaksanaan regrouping 20 sekolah tersebut. Dia lebih dulu akan memaparkan rencana itu kepada bupati, selaku pejabat yang memegang kebijakan tertinggi di kabupaten. “Secepatnya. Semoga bisa tahun ini,” lanjutnya. Slamet optimistis, setelah diregrouping, pelayanan pendidikan di Bantul lebih seimbang. Hak siswa dan guru juga bakal terpenuhi.

Bupati Bantul Suharsono menyampaikan, pembenahan bidang pendidikan menjadi salah satu program prioritasnya. Kendati demikian, Suharsono tidak mau mengeluarkan kebijakan tanpa adanya kajian secara mendalam. Termasuk rencana regrouping SD. (zam/yog/ong)