ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
SUMBAT: Tumpukan sampah yang terbawa arus sungai berhulu di Puncak Gunung Merapi menyumbat Bendungan Klegen, Kabupaten Bantul. Sampah berakhir di hilir di kawasan laut selatan, sehingga mencemari Pantai Parangtritis dan Parangkusumo.
BANTUL – Banjir kiriman dari sungai yang berhulu di puncak Me-rapi tak hanya menggenangi per-mukiman penduduk dan areal per-sawahan. Di bagian hilir, di wilayah Bantul, banjir juga membawa dam-pak buruk. Yakni, tumpukan sampah yang terbawa arus aliran sungai.

Kasi Operasi Jaringan Irigasi, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul Yitno memperkirakan volume sampah mencapai ribuan kubik. Tumpukan sampah paling parah berada di tiga bendungan, yaitu: Klegen, Mejing, dan Sikluih. Ke tiga bendungan ini berada di aliran Sungai Winongo. “Di masing-masing bendungan tumpukan sampah mencapai 500 kubik,” katanya saat membersihkan tumpukan sampah di Bendungan Klegen kemarin (14/3).

Jenis sampah bervariatif. Didomi-nasi limbah rumah tangga. Ada juga ranting pepohonan, plastik, dan Styrofoam.

Bahkan, sampah kayu be-kas bangunan rumah. Saking parahnya, salah satu pintu air di Bendungan Mejing jebol lantaran tak mampu menahan gempuran sampah. “Yang jelas kiriman dari arah utara,” beber Yitno. Yitno enggan menyebut istilah utara itu merujuk Kota Jogja atau Sleman. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Sebab, saat sebagian wilayah Kota Jogja dan Sleman dilanda banjir, kondisi cuaca di Bantul pada Sabtu (5/3) cerah. Dinas SDA juga rutin mengecek kebersihan sungai. Termasuk seluruh saluran tersier. Aliran-aliran air itu rutin dibersihkan dari sampah dan sendimen yang menghalangi. “Pada hari-hari biasa nggak ada sampah seperti ini,” klaimnya.

Sayangnya, proses pembersihan bendungan tak dilakukan secara maksimal. Sampah tidak diangkut untuk dibuang ke tempat pembu-angan akhir. Tumpukan sampah hanya disingkirkan dari pintu ben-dungan. Kemudian dibuang begitu saja mengikuti aliran sungai. Yitno menyadari cara seperti ini tidak menyelesaikan persoalan. Dia mengakui, cara itu hanya akan me-mindah tumpukan sampah dari bendungan ke hilir sungai, sehingga mencemari laut. Hanya sampah yang dirasa masih bisa dimanfaatkan di-ambil oleh warga setempat. Misalnya, kayu sisa puing bangunan rumah. “Kami tak bisa berbuat banyak. Dinas SDA belum ada MoU dengan Dinas Pekerjaan Umum terkait penanganan sampah sungai,” dalihnya.

Yitno menyesalkan masih ren-dahnya tingkat kesadaran dan ke-pedulian warga DIJ terhadap ke-bersihan sungai. Padahal, membu-ang sampah di sungai menjadi pemicu utama banjir. Selain juga mencemari lingkungan.Sebenarnya, saat ini sudah ada regulasi yang mengatur masalah tersebut. Berupa Peraturan Daerah tentang Irigasi. Namun, Yitno me-nilai penegakkan aturannya masih lemah.

Meskipun, regulasi tersebut memuat ancaman hukuman den-da Rp 50 juta atau kurungan mak-simal 3 bulan bagi pelanggar. Kondisi aliran Sungai Winongo ternyata berbeda dengan dua aliran lain, yang juga meluap. Yakni, Su ngai Bedog dan Code. Menurut Yitno, dampak luapan dua sungai tersebut tak separah Winongo. Bahkan, tidak terdeteksi adanya tumpukan sampah di dua bendungan sungai itu.

Komandan Tim SAR Pantai Parang-tritis Ali Sutanto mengungkapkan, tumpukan sampah terpantau di Pan-tai Parangtritis dan Parangkusumo sejak Minggu (6/3) pagi. “Lima truk saja ada, lebih malah,” tuturnya.Tak ada kata selain kerja bakti masal untuk membersihkan tum-pukan sampah di titik tersebut. (zam/yog/ong)