SLEMAN – Puluhan warga Sleman harus mengungsi ke tempat aman saat banjir melanda empat wilayah kecamatan akibat hujan lebat pada Sabtu (12/3) malam. Yakni, Pakem, Sleman, Mlati, dan Turi. Hujan disertai angin kencang juga menyebabkan sebuah rumah roboh dan puluhan pohon tumbang. Banjir terjadi akibat hujan deras berlangsung cukup lama di puncak Gunung Merapi. Sungai-sungai berhulu di puncak gunung aktif itupun tak mampu menampung material vulkanik dari puncak, sehingga air di aliran meluap ke pemukiman warga. Sehingga menimbulkan sejumlah kerusakan infrastruktur.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mendeteksi sedikitnya ada 10 titik lokasi banjir. Tersebar di enam desa, yaitu, Trimulyo, Sendangadi, Sinduadi, Purwobinangun, Donokerto, dan Pandowoharjo. Sedikitnya 32 rumah terendam banjir. Satu diantaranya di Purwobinangun, Pakem roboh. Jembatan sesek di salah satu sungai juga hanyat terbawa derasnya aliran air. “Warga yang mengungsi 64 jiwa,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Julisetiono Dwi Wasito kemarin (13/3).

Banjir juga menggenangi areal sawah seluas 2.500 meter persegi di Turi dan Mlati. Kemarin, sebagian warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing. Mereka lantas bebenah dan menginventarisasi perabotan yang tidak hanyut terbawa banjir. “Itu setelah genangan menyusut. Kami evakuasi dan dibantu logistik,” lanjutnya.

Julisetiono memperkirakan, potensi banjir besar sangat mungkin bakal terjadi lagi jika hujan deras mengguyur puncak Merapi. Karena itu, dia mengimbau masyarakat, khususnya yang berdomisli di bantaran sungai agar selalu waspada setiap hujan deras. Tak kalah penting, warga juga harus waspada ancaman lain yang terjadi saat hujan. Diantaranya, angin kencang, petir, dan tanah longsor.

Seperti terjadi di Tridadi (Sleman), Sukoharjo dan Donoharjo (Ngagglik), Pakembinangun (Pakem), Wukirsari (Cangkringan), dan Donokerto ( Turi). “Angin kencang mengakibatkan sembilan pohon tumbang dan sebuah rumah roboh di Tridadi,” jelasnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Tony Agus Wijaya berulangkali mengingatkan bahwa selama musim pancaroba sering terjadi cuaca ekstrim. Paling sering berupa angin kencang dan hujan berintensitas tinggi yang disertai petir. Itu lantaran saat peralihan musim juga diikuti berubahnya arah angin. Tak ayal, hal itu bakal menyebabkan cuaca cerah saat pagi mendadak berubah mendung dan hujan lebat pada siang atau sore. “Ini yang harus diantisipasi. Masyarakat perlu tahu gejala-gejala itu supaya bisa antisipasi dini,” tuturnya.

Guna meminimalisasi dampak banjir, Tony mengimbau warga gotong royong mengurangi sedimen aliran sungai. Agar saat terjadi hujan lebat aliran sungai tak sampai meluap ke permukiman penduduk.(bhn/yog)

Perhatikan Jarak Aman Sempadan Sungai
Banjir juga menerjang kawasan permukiman penduduk di Kelurahan Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Belasan rumah warga terkena luapan air Sungai Winongo. Itu lantaran lokasi permukiman berada di dalam garis sempadan sungai. Hanya berjarak kurang dari 50 meter dari bibir sungai. “Rumah-rumah di perkotaan kan begitu. Rapat-rapat dan dekat sungai,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto.

Kondisi serupa menimpa warga Kelurahan Bangunharjo, Sewon, yang terletak di tepi Sungai Code. Bahkan, rumah-rumah warga di lokasi tersebut selalu menjadi langganan banjir luapan Code setiap kali hujan deras. “Jika ditotal ada puluhan rumah,” sebutnya.

Soal banyaknya rumah warga yang melanggar garis sempadan sungai, Dwi tak bisa berbuat banyak. Untuk pendataan dan penertiban, dia harus berkoordinasi dengan instansi lain. Diantaranya, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum, dan Satpol PP.

Dwi memprediksi, potensi banjir akibat luapan air aliran sungai bakal terjadi hingga akhir Maret.

“Bantul seperti Jakarta. Meski tidak hujan tetap terkena dampak jika Sleman atau Kota Jogja hujan deras,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dwi mengatakan, bahwa banjir pada akhir pekan lalu tak menimbulkan korban jiwa. Hanya, belasan warga Pedukuhan Winongo sempat dievakuasi ke tempat aman.(zam/yog)