RIZAL SN/RADAR JOGJA
MEMBANGGAKAN: Eko Nugroho dan karyanya Republic Tropis yang menjadi desain scraf brand asal Perancis, Louis Vuitton.

Hanya Dicetak 500 Item, Sentuhan Bentuk Candi Borobudur dan Gunungan

Akhir Februari 2016 lalu, Presiden Joko Widodo mengapresiasi seniman Eko Nugroho yang karyanya dijadikan desain syal sebuah merek fesyen ternama asal Perancis, Louis Vuitton. Tak tanggung-tangggung, desain berjudul Republic Tropis itu bernilai mencapai US$ 1.000 per helai.

RIZAL SN, Bantul
REPUBLIC TROPIS menampilkan identitas multikultural dengan sentuhan budaya Indonesia. Ada banyak warna yang tertuang dalam desain karya Eko Nugroho. Menurut seniman yang masa kecilnya tumbuh di Kampung Prawirodirjan, Gondomanan, Jogja ini, dalam desain karyanya ada sentuhan penyederhanaan bentuk Candi Borobudur dan gunungan.

“Saat itu mengirimkan tiga desain. Namun, Republic Tropis yang dipilih,” ungkapnya saat ditemui di studio miliknya di Plurugan RT 11, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin siang (7/3).

Eko mengungkapkan, dari pihak Louis Vuitton hanya memberikan rambu-rambu ukuran syal. Juga desainnya harus universal, tidak memihal agama atau komunitas mana pun. “Sebab, desain ini digunakan untuk publik yang lebih luas,” terangnya.

Eko menuturkan awal mula diajak kerja sama oleh Louis Vuitton. Tahun 2011, dia dan lima belas seniman diundang pameran di Perancis. “Louis Vuitton punya gerai, nah di lantai atasnya ada galeri atau art space-nya. Kita pameran di situ,” katanya.

Lalu pada 2012, dia diundang kembali untuk pameran di Museum of Modern Art Perancis dalam Sam Art Project selama lima bulan. Kemudian, akhir 2012, tim desainer Louis Vuitton mengontaknya via email menawarkan kerja sama.

“Dilanjut pertemuan di Hongkong untuk kerja sama. Saat itu ada tiga orang yang diundang. Seniman dari Inggris, Perancis, dan satunya saya,” ujarnya.

Eko mengatakan, saat itu bisa disebut dia mewakili desain asal Asia. Sebab, pihak Louis Vuitton kala itu juga sempat mempertimbangkan karya seniman asal Hongkong. Namun, desain dari Indonesia yang akhirnya menjadi pertimbangan mereka untuk dijadikan syal.

“Produk keluar pertengahan 2013 silam. Launching pada Juli 2013 di Plaza Thamrin, Jakarta. Hanya dicetak 500 item,” ungkapnya.

Eko mengungkapkan, sebenarnya seniman Indonesia banyak yang punya karya bagus. Hanya feedback pemerintah yang sangat lambat dibanding reaksi dari luar. “Orang kita juga lebih ngeh kalau sudah dihargai di luar. Pemerintah dan masyarakat belum banyak tahu kalau sebenarnya potensi seniman lokal kita tinggi. Tapi belum banyak diperhatikan,” tuturnya.

Semakin banyak kesempatan warga Indonesia mendapat project di luar negeri, kata Eko, semakin membuka wacana karya-karya Indonesia dikenal luas. “Banyak memunculkan karya dahsyat yang lebih menarik. Kalau tidak mencoba dan memulai, kita tidak pernah tahu,” ujarnya.

Eko sendiri mulai mencoba mengasah bakatnya sejak kecil. Dia mengaku sejak usia 5 tahun suka menggambar di tembok dan halaman rumah tetangganya. Di sela-sela kejenuhan belajar, dia juga kerap menggambar dan mencoret-coret halaman belakang buku pelajarannya.

“Orang tua saya dari kecil sudah bilang kalau saya bisa menggambar, tapi saya belum ngeh,” kenangnya.

Selepas SMP, barulah dia menyadari kesenangan dan bakat menggambarnya. Dia lantas masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) pada 1993. Setelah dari SMSR, orang tuanya yang hanya loper koran, tidak mampu membiayainya kuliah. Namun, berkat hadiah juara satu lomba menggambar, uang itu bisa digunakan untuk mendaftar di ISI Jogja.

“Saya lalu sering mengirim gambar ke koran mingguan dulu. Honornya untuk biaya kuliah. Juga mengurus beasiswa agar tetap bisa kuliah,” kenangnya.

Kemudian di medio 2000, dia dan beberapa kawan membuat sebuah komik underground, Daging Tumbuh (DGTMB). Sebuah kumpulan karya seni rupa, tulisan, dan foto yang menjadi proyek kolaborasi. Bentuknya fotokopian saja dan hanya dicetak 50 eksemplar pada edisi pertama.

Awalnya, komik itu diharapkan bisa memperkenalkan dan menyebarluaskan karya seniman muda. “Sekarang sudah masuk edisi 16. Ada sekitar 200 halaman tiap edisi,” ungkapnya.

Dari komik underground, DGTMB bertransformasi menjadi toko yang menjual beberapa merchandise para seniman. Mereka menjual hasil karyanya di DGTMB. Sistemnya adalah konsinyasi atau menitipjualkan dengan share keuntungan.

Selain beberapa project tersebut, Eko juga menggarap program pembelajaran seni untuk anak-anak. Program Artklas namanya. Program ini menyasar anak-anak usia tiga hingga 12 tahun yang ingin belajar seni rupa. (ila/ong)