GUNUNGKIDUL – Semakin maraknya kasus kekerasan seksual pada anak di bawah umur, membuat Bupati Badingah prihatin. Salah satu langkah meminimalisasinya dengan mewajibkan materi pelajaran kesehatan reproduksi (kespro) di sekolah.

Bahkan, ada kasus kekerasan kekerasan seksual yang berujung kematian di Gunungkidul beberapa waktu lalu. Badingah melihat kasus tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak. Baik sekolah, orang tua, maupun pemkab.

“Materi kespro di sekolah harus ada. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi harus diketahui remaja untuk meminimalisasi terjadinya kasus tersebut,” kata Badingah.

Berdasarkan pengamatan Badingah, remaja kini disibukkan penggunaan smartphone. Penggunaan gadged bagi anak, jika tidak tepat, lebih banyak sisi negatif dari positifnya.

“Perlu menjadi perhatian semua pihak. Saat ini perlu pendidikan mental sejak dini. Pendidikan mental sejak awal harus dikuatkan,” kata Badingah.

Anak pun harus diberi pelajaran tentang moralitas. Dahulu, pelajaran budi pekerti diajarkan di setiap sekolah.

“Jika cara tersebut dilakukan berkelanjutan, kasus kekerasan seksual yang melibatkan pelajar atau anak di bawah umur diharapkan tidak terjadi lagi. Inilah pentingnya pembelajaran mengenai materi reproduksi pada anak,” kata Badingah.

Koordinator relawan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) Gunungkidul, Tri Wahyu Ariningsih menyambut baik langkah bupati tersebut. “Menurut data kami, sebagian besar sekolah di Gunungkidul belum memberikan materi kespro,” kata Tri.

Sekalipun ada, materi kespro masih diselipkan di materi pembelajaran lain. Kebanyakan sekolah memang belum memiliki guru kespro.

“Sejumlah sekolah sudah mulai membekali guru dengan mengikutsertakan dalam pelatihan materi reproduksi,” ujar tokoh organisasi yang konsern dengan isu kespro ini.

PKBI sudah melakukan pendampingan materi reproduksi di 12 sekolah. “Kami siap mendorong dan membantu pemerintah dalam penyiapan materi kespro di sekolah,” ujar Tri. (gun/iwa/ong)