BANTUL – Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Jogjakarta menggelar sidang kasus pengeroyokan anggota TNI AU oleh belasan anggota Kopassus. Sidang dipimpin Hakim Ketua Letkol Sus Syf Nusiana dimulai sekitar pukul 11.00, dan berlangsung hampir enam jam, kemarin. Dua dari lima terdakwa dari pasukan elite tersebut, divonis pemecatan.

“Vonis untuk Pratu Hendrik Supriyadi diputus hukuman penjara tiga tahun enam bulan dan dipecat dari TNI. Putusan sama juga diberikan kepada Pratu Dedi Irawan,” kata Sekretaris Dilmil II-11 Jogjakarta Kapten Chk Handoko SH, usai sidang, kemarin (2/3).

Putusan untuk tiga terdakwa lainnya, yakni Serda Azan adalah 18 bulan penjara tanpa dipecat. Sedangkan terdakwa Prada Jamaludin dan Prada Rice dihukum kurungan satu tahun dan tidak dipecat dari TNI.

“Kelimanya dinyatakan, bersalah telah melanggar pasal 170 KUHP tentang penganiayaan bersama-sama yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” tuturnya.

Menyikapi putusan ini, Pratu Hendrik dan Pratu Dedi yang dihukum pemecatan sebagai anggota TNI mengajukan banding. Sedangkan tiga terdakwa lainnya masih pikir-pikir.

Sebelumnya, dalam kasus pengeroyokan yang mengakibatkan meninggalnya anggota TNI AU Serma Zulkifli pada Minggu 31 Mei 2015, terdapat 16 terdakwa yang terbagi dalam tiga berkas.

Tiga berkas tersebut terdiri dari berkas perkara terdakwa Pratu Hendrik dan empat kawannya, berkas perkara Serda Suryadi bersama Sembilan kawannya, dan berkas perkara Serka Taufan. Kasus pengeroyokan yang terjadi di kawasan Karaoke Bima Sukoharjo tersebut.

Selain berkas pertama, berkas ketiga yakni Serka Taufan Batua Sesanto juga telah diputus oleh majelis hakim pada 3 Februari 2016. Dalam putusan tersebut, majelis hakim menyatakan Serka Taufan terbukti bersalah karena menyalahgunakan pengaruhnya sebagai atasan terhadap bawahan untuk melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian.

“Dihukum 1 tahun 6 bulan, tidak dipecat. Atas putusan hakim tersebut, pihak Taufan masih pikir-pikir,” tandas Handoko. (riz/dem/ong)