Gunawan/Radar Jogja
KONTINU: Mencegah aksi bunuh diri, warga Tanjung, Bleberan, Playen, Gunungkidul, mengintensifkan kegiatan kebersamaan dengan cara gotong royong kemarin (17/1).

GUNUNGKIDUL – Kasus bunuh diri di Gunungkidul hingga kini masih tertinggi di wilayah DI Jogjakarta. Tahun lalu, sedikitnya ada 27 orang nekat mengakhiri hidup dengan cara sadis. Upaya pencegahan terus dilakukan, seperti yang tengah digencarkan warga Tanjung, Bleberan, Playen.

Aktivis pemuda Desa Bleberan Edi Supatmo mengatakan, warga Tanjung menjadi salah satu penyumbang angka kasus bunuh diri. Berdasarkan data, dari akhir 2014 hingga 2015 sudah terdapat tiga orang bunuh diri.

“Nah untuk mencegah aksi bunuh diri, kami mencoba mengajak masyarakat untuk banyak beraktivitas. Dengan makin banyak aktivitas, dorongan berperilaku menyimpang dapat dikurangi,” kata Edi kemarin di sela gotong royong di wilayahnya kemarin (17/1).

Dia menjelaskan, warga setempat menyebut gotong royong dengan istilah gugur gunung. Yakni kegiatan masal yang melibatkan seluruh warga dari anak sampai lansia untuk melakukan kegiatan kerja bakti secara rutin.

Menurutnya, gugur gunung diyakini akan menjadikan wilayah semakin ramai. Masyarakat mulai anak hingga lansia dilibatkan secara langsung bergerak ke lokasi. Dengan kegiatan padat dan melibatkan semua warga dalam gerakan bersih-bersih, masyarakat tidak akan lagi memiliki waktu luang untuk berpikir tentang aksi bunuh diri.

“Kegiatan ini didukung oleh beberapa jaringan aktivis LSM Penabulu dan Semaul Globalization Foundation (SGF),” ujarnya.

Terpisah, Dukuh Tanjung Wakidi mengatakan selain memutus mata rantai aksi bunuh diri, gugur gunung secara tidak langsung bisa menggarap destinasi wisata baru di wilayahnya. Selain lokasi alam yang masih asri, suasana pedesaan dan sajian kuliner lokal tengah disiapkan menjadi formula baru.

“Dengan demikian data kasus bunuh diri dapat berkurang. Sebab, dalam kurun waktu beberapa tahun terdapat sembilan kejadian baik bunuh diri minum racun atau gantung diri,” kata Wakidi.

Di bagian lain, psikiatri RSUD Wonosari Ida Rochmawati mengungkapkan, berbagai faktor penyebab bunuh diri, di antaranya, berkaitan dengan biologi, psikologi dan sosial. Namun demikian, jika ditangani lebih dini sangat mungkin bunuh diri dapat dicegah. “Upaya pencegahan ini harus dilakukan secara bersama,” kata Ida.

Menurutnya, depresi adalah gangguan suasana hati yang ditandai dengan murung, mudah lelah dan hilang minat. Pada saat itu terjadi penurunan zat di otak yang bernama serotonin.

Dari sisi psikologi, pelaku bunuh diri pada umumnya memiliki kepribadian yang tertutup dan sensitif. Kemudian dari sisi sosial disebabkan adanya stresor yang terkait dengan lingkungan sosial. Tren bunuh diri di Gunungkidul sendiri masih didominasi lansia. (gun/laz/ong)