Hendri Utomo/Radar Jogja
PESIMISTIS: Mesin penyedot pasir saat beroperasi memindahkan pasir dari dasar alur pelabuhan ke tepian di Pelabuhan Tanjung Adikarto, Kulonprogo, kemarin (16/11).


KULONPROGO – Banyak yang menyangsikan proyek pengerukan pasir kolam Pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karangwuni, Wates, Kulonprogo, selesai tepat waktu. Salah satunya datang dari anggota DPRD DIJ saat melakukan sidak di Pelabuhan Tanjung Adikarto, kemarin (16/11).
Anggota DPRD DIJ Drs Sudarto ragu proyek pengerukan pasir pelabuhan akan selesai, terlebih proses pengerukan hanya menggunakan mesin sedot pasir. Bahkan saat sidak satu kapal didapati dalam kondisi rusak. Sementara rekanan hanya menggunakan dua unit alat berat untuk mengangkat pasir dari dasar kolam.
Melihat kenyataan itu, Sudarto mendesak Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa (DKP) DIJ melakukan pengawasan ketat proses pengerjaan proyek. Sementara rekanan juga diminta menambah peralatan yang memadai.
“Banyak pihak akan kecewa kalau sampai awal 2016 pelabuhan belum bisa beroperasi,” tegasnya di sela kunjungan di Pelabuhan Tanjung Adikarto.
Sudarto bahkan mengaku heran terhadap rekanan yang hanya menggunakan alat sederhana berupa mesin penyedot pasir untuk mengeruk pasir dari dasar kolam pelabuhan. Terlebih jika melihat arealnya yang cukup luas dengan volume pasir yang harus diangkat juga relatif banyak.
“Peralatan yang digunakan sangat minim. Pengerukan pasir pelabuhan kok tidak menggunakan alat berat ya. Pengerjaan proyek ini sudah sangat terlambat. Karena batas waktunya hampir habis sementara progres pekerjaan masih minim,” ujarnya.
Sudarto menambahkan, keterlambatan pengerjaan proyek tidak sepadan dengan upaya meraih dana dari pemerintah pusat yang tidak mudah. “Pemerintah harus tegas,” tegasnya.
Petugas pengawas pengerukan pasir dari PT Handaru Adiputra Giyono mengamini, mesin penyedot pasir yang ada saat ini dalam kondisi rusak, tapi pihak rekanan telah mendatangkan alat sedot baru.
“Sekarang alatnya sedang dirakit. Selain itu kedalaman dasar kolam pelabuhan juga dipengaruhi kondisi laut. Kalau pas pasang dalam tapi kalau air laut sedang surut jadi dangkal,” ungkapnya.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kulonprogo Ponimin Budi Hartono juga menyesalkan lambatnya pengerukan pasir di kolam pelabuhan. Menurutnya, pihak rekanan bekerja lebih profesional dengan mendatangkan peralatan yang memadai, sehingga hasil pengerukan jadi maksimal.
“Kalau hanya menggunakan mesin sedot, ya sampai akhir tahun juga tidak bakal rampung,” terang Ponimin didampingi Wakil Ketua Komisi II DPRD Kulonprogo Muhtarom Asrori. (tom/laz/ong)