Selalu Tiga Besar, Ingin Jadi Pengusaha IT

Pendidikan merupakan hak bagi setiap umat manusia. Baik itu masyarakat sederhana hingga berkecukupan, pasti memimpikan pendidikan yang layak. Begitu pula yang ada di benak Ikhsan Tanoto Mulyo. Meski terlahir dengan status ekonomi jauh dari berkecukupan, ia memiliki impian tinggi akan pendidikan.
DWI AGUS, Jogja
Perawakannya terlihat tinggi untuk remaja seumurnya. Di balik senyum yang terus mengembang, ada cerita menarik di dalamnya. Ikhsan Tanoto Mulyo terlahir dari keluarga dengan perekonomian yang jauh dari mapan. Meski begitu, hal ini tak cukup untuk mematahkan impiannya.
Remaja yang akrab disapa Ikshan ini patut berbangga. Ini karena usahanya untuk mendaftar sebagai calon mahasiswa UGM akhirnya berbuah manis. Putera kelahiran Klaten, 23 Juni 1997 ini, diterima melalui jalur bidik misi kuliah di Program Studi Elektronika dan Instrumentasi, FMIPA, UGM. Bahkan dalam menempuh perkuliahan, dirinya tidak dikenai biaya sepeser pun hingga wisuda.
“Rasanya senang sekali bisa melanjutkan ke jenjang kuliah. Meski dari segi ekonomi kurang mendukung, saya tetap memiliki semangat yang tinggi. Ingin membahagiakan ibu saya yang sudah berjuang untuk ekonomi keluarga,” kata Ikhsan kemarin (28/6).
Ia menceritakan bahwa ibunya Muji Lestari (55) merupakan penopang perekonomian keluarga. Terlebih saat ayahnya meninggal 2013 lalu. Kepergian sang ayah yang diakibatkan penyakit stroke, membuat keluarga ini semakin berjibaku. Tidak hanya untuk ekonomi, namun pendidikan yang layak bagi Ikhsan.
Bungsu dari tiga bersaudara ini kini hanya tinggal berdua bersama ibunya. Rumahnya di Dusun Bocoran, Baran, Cawas, Klaten, pun terlihat sangat sederhana. Sebuah mesin tenun tua menjadi pemandangan di depan rumahnya. Sedangkan kedua kakaknya telah merantau di luar kota.
“Rasanya sulit untuk bisa kuliah kalau melihat keadaan keluarga. Bisa diterima di UGM dan bebas biaya kuliah, sangat bersyukur sekali. Pastinya ini merupakan berkah yang indah bagi saya dan ibu,” kata Ikhsan, tak henti-hentinya bersyukur.
Melihat keseharian keluarga ini patut menjadi pembelajaran. Dalam kesehariannya, sang ibu Muji Lestari bekerja menjadi buruh tani. Untuk memenuhi kehidupan ekonomi dirinya membuat serbet makan. Hal ini dilakoni Muji saat musim bercocok tanam.
Hasil dari kreasinya ini dijual per meter seharga Rp. 2500,-. Tentunya ini tidak seberapa dibandingkan kebutuhan keseharian. Namun Muji dan Ikhsan tetap melakoni ini tanpa mengeluh. Keadaan ini semakin muram karena kondisi kesehatan sang ibu yang tidak stabil.
Ikhsan mengungkapkan ibunya mengidap diabetes mellitus. Ini tentu menjadikan kondisi perekonomian keluarga semakin terseyok-seyok. Sehingga setiap bulannya penghasilan yang diperoleh tidak lebih dari Rp 250.000,-.
“Kesehatan ibu naik turun, jadi tidak bisa bekerja seperti dulu. Penyakit katarak juga semakin membatasi ibu untuk beraktivitas,” ungkap Ikhsan.
Di sisi lain keadaan perekonomian dan kesehatan ibunya justru menjadi motivasi bagi Ikhsan. Ini diakui olehnya sejak masih duduk di bangku SD. Beragam prestasi diraihnya selama mengenyam bangku SD, SMP hingga SMA.
Bahkan sejak di bangku SD hingga SMP, Ikhsan selalu masuk dalam posisi tiga besar di kelasnya. Berkat prestasinya itu, pun ia mendapatkan beasiswa. Bahkan dirinya mendapatkan kesempatan mengikuti sejumlah program pendampingan pembelajaran. Program ini berasal dari sebuah lembaga yang fokus terhadap peningkatan kapasitas kurang mampu melalui pendidikan.
Keterbatasannya ini pula yang menjadi bahan bakar untuk menuntut ilmu. Untuk menuju sekolahnya di SMA 1 Cawas, ia terbiasa mengayuh sepeda. Kurang lebih 8 km harus dia tempuh setiap harinya, mulai dari berangkat dan pulang sekolah.
“Kuncinya itu percaya sama Tuhan. Saya yakin pasti ada jalan asal berusaha dan berdoa,” kata remaja yang memiliki cita-cita menjadi pengusaha di bidang IT ini.
Perjuangan sang anak ini tentunya juga menyentuh hati sang ibu, Muji Lestari. Dirinya mengaku bahagia mengetahui anaknya bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Meskipun dalam keadaan pas-pasan, ia tidak pernah melarang anaknya untuk kuliah.
Muji mengungkapkan keinginan Ikhsan untuk melanjutkan kuliah memanglah kuat. Bahkan keinginan ini telah dilontarkan saat Ikhsan masih usia anak-anak. Satu hal yang dikagumi dari anaknya adalah keteguhan hati. Di mana semangat dan tidak putus asa menjadi motivasi untuk terus berusaha.
“Keadaan ini justru membuat Ikhsan berusaha lebih berprestasi agar bisa mendapat beasiswa. Saya hanya bisa memberikan dukungan doa untuk kesuksesan putera bungsu saya ini. Semoga apa yang dicita-citakan bisa terlaksana dan jadi orang sukses,” harapnya. (laz/ong)