SETIAKY/RADARJOGJA
SEGERA BERSIKAP: Dari kiri RM Oggy Santigi, GBPH Hadisuryo, GBRAy Murdokusumo, dan istri RM Oggy Santigi saat menjelaskan kepada wartawan hasil pertemuannya dengan HB X, kemarin (21/5).
JOGJA – Putra-putri trah Sultan Hameng-ku Buwono (HB) IX tidak ingin sabdaraja dan dawuhraja yang dikeluarkan HB X terus menimbulkan kontroversi berkepan-jangan. Mengantisipasi itu, mereka bakal mengaktifkan kembali lembaga Dewan Saudara yang pernah dibentuk pascawa-fatnya HB IX pada 1988 silam
Dewan Saudara segera men-gumpulkan semua keturunan HB IX, khususnya putra-putrinya yang masih hidup. Pertemuan Dewan Saudara ini akan dimotori GBPH Hadisuryo, putra HB IX yang lahir dari istri pertama Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Pintoko Purnomo. Sampai sekarang anggota De-wan Saudara ada 11 orang putra berstatus pangeran, ditambah empat putri dengan gelar gusti bendara raden ayu (GBRAy). Dengan demikian ada 15 orang yang terlahir dari empat garwa dalem atau istri HB IX. “Dewan Saudara itulah yang mengangkat Kangmas Mangku-bumi menjadi HB X. Dulu yang menunjuk kami semua dari al-marhum HB IX. Jadi HB X itu naik takhta bukan ditunjuk ayah kami, tapi mendapatkan man-dat dari semua saudaranya,” ungkap Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Hadisuryo di kantornya, Tepas Security Kera-ton Jogja, kemarin (21/5).
Mangkubumi adalah nama HB X sebelum naik takhta. Kini nama tersebut disematkan ke-pada putri sulungnya Gusti Kan-jeng Ratu (GKR) Pembayun yang sejak 5 Mei 2015 beralih nama menjadi GKR Mangkubumi Ha-memayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram.
Gusti Hadisuryo, demikian dia akrab disapa, menegaskan, per-temuan Dewan Saudara itu bakal digelar secepatnya. Ke-mung kinan dilangsungkan akhir pe kan ini. Sesuai dengan amanat ayahnya, kedudukan antarang-gota Dewan Saudara itu setara. Sebagai pemberi dan penerima mandat tak banyak perbedaan. “Hak kami semua sama. Ter-masuk dengan sultan yang se-karang bertakhta. Itu pesan ayah kami,” tegasnya.
Dewan Saudara akan memba-has kondisi dan situasi keraton akhir-akhir ini. Terutama setelah HB X memutuskan mengganti namanya menjadi Sultan Ha-mengku Bawono, menanggalkan gelar sayidin panatagama kha-lifatullah, dan mengangkat putri-nya Pembayun menjadi GKR Mangkubumi.Di mata Hadisuryo, perubahan nama Mangkubumi itu merupa-kan isyarat pengangkatan putri mahkota. Sebab, setelah bergan-ti nama, Pembayun lantas dip-erintah ayahnya duduk di watu gilang yang berada di kompleks Bangsal Sitihinggil. “Yang boleh duduk di sana hanya putra ma-hkota yang akan diangkat men-jadi raja. Dulu ayah saya, dan Kangmas Mangkubumi juga duduk di sana sebelum dilantik menjadi sultan,” terangnya.
“Saya waktu itu duduk di bela-kang Pembayun bersama GBRAy Riyokusumo (kakak HB X lain-nya). Jadi melihat secara lang sung. Kursi yang ditempati Pembayun memang khusus untuk putra mah kota,” imbuh kakak Ha-disuryo, GBRAy Murdokusumo yang ikut hadir memberikan keterangan. Diakui, keputusan HB X itu mendatangkan masalah serius bagi keraton. Itulah nantinya yang akan disikapi Dewan Sau-dara. Meski memiliki kuasa me-milih dan menetapkan sultan yang bertakhta, Dewan Saudara tidak sekalipun berpikir menunjuk pelaksana tugas (Plt) sultan atau melengserkan HB X dari kedu-dukannya.”Justru kami harus tetap solid, walau terjadi perbedaan penda-pat. Nggak ada pemikiran ke sana,” kilahnya.
Sebelum bertemu wartawan kemarin, Gusti Hadisuryo dan Gusti Murdokusumo didampingi keponakannya, RM Oggy San-tigi, lebih dulu bertemu HB X. Oggy adalah putra dari GKR Anom Adibroto, putri sulung HB IX, atau kakak beda ibu dari HB X. Sama seperti Murdokusumo dan Ha-disuryo, GKR Anom merupakan putri HB IX yang lahir dari istri pertama, KRAy Pintoko Purnomo. Mereka punya dua saudara kandung lainnya yakni KGPH Hadikusumo dan GBRAy Darmo-kusumo. GKR Anom dan KGPH Hadikusumo telah meninggal du nia beberapa tahun lalu.Pertemuan antara HB X dengan saudara-saudaranya itu berjalan sekitar satu jam, pukul 7.30-8.30. Mereka diterima di Gedong Jene. Di masa lalu, Gedong Jene men-jadi tempat tinggal dan kantor se-hari-hari ayah mereka, HB IX, bila berada di Jogja. Saat pertemuan HB X mengenakan busana Jawa jangkep seorang raja. “Kami juga kaget melihat busa-na yang dipakai Ngarsa Dalem (HB X) karena tidak biasanya beliau menerima kami dengan busana seperti ini,” ungkap Gusti Murdo yang juga terhitung masih kakak HB X.
Selama pertemuan itu, HB X menjelaskan banyak hal. Ter-kait sabdaraja dan dawuhraja dilakukan karena dirinya me-rasa mendapatkan dawuh atau perintah dari Allah melalui lelu-hurnya. Di antara leluhur yang menyampaikan wangsit adalah Panembahan Senopati, HB I, HB VII, dan HB IX. Di depan kakaknya itu, Gusti Hadisuryo sempat memperta-nyakan kenapa penyampaian sabdaraja dan dawuhraja ter-kesan dilakukan terburu-buru dan tidak pernah didiskusikan dengan saudara-saudara HB X lainnya. “Gara-gara itu sekarang menjadi masalah,” sesalnya. Pangeran yang di masa muda-nya bernama BRM Kasworo ini mengaku tak bisa mempercayai 100 persen adanya dawuh dari para leluhur tersebut. Tak pelak dalam pertemuan itu, penjelasan HB X tidak dapat diterima. “Ka-mi beda pendapat, tapi kami akan tetap menjaga kekompakan. Keluarga HB IX harus solid, dan tidak boleh pecah. Kalau sampai terbelah, kami malu,” ujarnya.
Acara di Gedong Jene itu merupa-kan kali ketiga HB X bertemu dengan kakak dan adik-adiknya setelah ter-jadi ontran-ontran di keraton. Gusti Hadisuryo menyatakan, Pakuningrat bersama saudara-saudaranya itu akan datang ke Jogja Sabtu (23/5) besok. Dari pertemuan di Gedong Jene, kelu-arga KRAy Pintoko Purnomo diminta menjadi mediator demi mengumpulkan semua keturunan HB IX. Setelah Dewan Saudara bertemu, rencananya mereka akan mengambil sikap. Sikap itu akan disampaikan kepada HB X. “Dewan Saudara akan ketemu dengan HB X. Kami ingin perbe-daan pendapat ini ada solusinya dan nggak boleh dibiarkan ber-larut-larut seperti sekarang,” tegasnya. (kus/laz/ong)