YOGI ISTI PUJIAJI
NJLIMET: Tanpa menggunakan mal atau bantuan garis dan titik-titik Mbah Jilah membuat parut.

Sisakan 60 Perajin, Per Hari Produksi 200 Buah

Teknologi telah menggeser sebagian besar fungsi perkakas rumah tangga dengan mesin. Namun, ada salah satu yangmasih dipertahankan, yakni, parutan.
YOGI ISTI PUJIAJI, Minggir
ALAT pemarut kelapa atau umbi-umbian tradisional berbahan kayu masih diproduksi oleh segelintir orang di Dusun Pojok 2, Sendangagung, Minggir. Bagi seseorang yang fanatik dengan alat tradisional, parut masih menjadi andalan. Buktinya, membuat parutan berbahan kayu dan kawat menjadi salah satu mata pencaharian sampingan sebagian besar ibu-ibu rumah tangga di Sendangagung. Mereka menggarap parutan di sela waktu bercocok tanam di sawah.Aktivitas para ibu yang rata-rata manula menjadi bukti bahwa perkakas rumah tangga tradisional tersebut masih eksis. “Kalau memakai mesin hasil parutannya kasar. Ampas kelapanya banyak tapi santannya sedikit,” papar Mbah Jilah, sambil menunjukkan kepiawaiannya menancapkan kawat ke papan kayu.
Meskipun usianya telah menginjak 85 tahun, Mbah Jilah masih cekatan memainkan palu dan tang penjepit kawat. Ya, walau tampak sederhana, butuh kecermatan untuk membuat sebuah parut tradisional. Kawat berdiameter setengah millimeter ditancapkan ke papan kayu secara merata dan rapi. Jika tidak rapi, hasil parutan tidak akan maksimal. Tanpa menggunakan mal atau bantuan garis dan titik-titik, tangan Mbah Jilah seolah bergerak tanpa perlu dikomando. Ya, puluhan tahun warga asli Pojok itu menggeluti usaha kecil itu. “Nggih awit enom riyin (ya, sejak masih muda dulu, Red), ” jelasnya.
Bagi Mbah Jilah, membuat parut bukan lagi sebagai sampingan. Dia memang menggantungkan hidup dari membuat parut. Setiap hari, nenek yang rambutnya telah memutih semua itu mampu menyelesaikan 10 buah parut. Itu jika dia tak menggarap sawah.Saat musim tanam, buruh derep itu hanya bisa menggarap 5 parut. Untuk membuat parut, Mbah Jilah memanfaatkan kayu melinjo. Modalnya cukup terjangkau. Tiap bidang kayu ukuran sekitar 40 cm x 10 cm seharga Rp 2 ribu dan kawat seribu rupiah. Hasilnya, dijual Rp 5 ribu. “Untung sedikit modal sedikit,” tuturnya.Menurut Kadus Pojok 2 Budiono, usaha membuat parut adalah tradisi turun-temurun warga setempat. Sampai saat ini ada sekitar 60 perajin. Jika dikumpulkan, rata-rata per hari ada 200-an parut yang siap jual. “Keuntunganya sekadar untuk menyambung asap dapur rumah,” tuturnya. (din/ong)