SETIAKY/RADAR JOGJA
PISOWANAN KHUSUS: Sultan HB X dengan pakaian kebesaran raja saat keluar dari Bangsal Sitihinggil, usai membacakan sabdaraja kemarin (30/4).
JOGJA – Sebuah acara adat yang tergolong tidak biasa berlangsung di Bangsal Sitihing-gil Keraton Jogja, kemarin (30/4). Sultan Hamengku Buwono X mengumpulkan se-jumlah kerabat dan abdi dalem keraton dalam sebuah pisowanan khusus. Dalam acara yang berlangsung tertutup bagi pers dan dijaga ketat aparat keamanan itu, HB X kembali mengeluarkan sebuah titah atau perintah raja. “Ngarsa Dalem (HB X) menyampaikan sabdaraja atau perintah raja. Ini bukan lagi sabdatama,” ungkap Mas Panewu Cermo Sugito, salah seorang abdi dalem usai acara.
Sabdaraja disampaikan secara singkat dalam bahasa Jawa. “Tak lebih dari lima menit,” tutur abdi dalem yang juga dalang ini. Sebagian peserta acara mengenakan busana pranakan.Inti dalam perintah itu, HB X mewanti-wanti agar semua perintahnya dipatuhi. Ketentuan itu berlaku bagi seluruh kerabat, keluarga raja, hingga abdi dalem. “Marang kawula dalem, abdi dalem sen-tana dalem, lan putra dalem kudu nglek-sanake, ngrasake, lan nindaklake dawuh ingsun (kepada semua rakyat, abdi dalem, kerabat dan keluarga raja harus melak-sanakan, merasakan dan menjalankan perintahku, Red),” ungkap Cermo Sugito mengutip pesan HB X.
Menggelar pisowanan di Bangsal Sitihing-gil baru kali pertama sepanjang HB X ber-takhta. Di tradisi keraton, Sitihinggil hanya digunakan untuk jumenengan atau naik takhta seorang sultan.Di tempat itu pula, 26 tahun silam, KGPH Mangkubumi dinobatkan sebagai HB X. Karena itu, jalannya acara sabdaraja itu persis seperti suasana 7 Maret 1989 saat HB X naik takhta. Meski tertutup untuk pers, Radar Jogja sempat mengamati jalannya prosesi sab-daraja itu
Satu-satunya pihak yang dii-zinkan mengabadikan acara hanya abdi dalem dari Kaweda-nan Hageng Tandayekti. Sama seperti abdi dalem lainnya, me-reka juga mengenakan busana pranakan.Acara dimulai sekitar puku 10.00. Kori Brojonolo yang men-ghubungkan antara kompleks Keben dengan Sitihinggil di-buka. Dari Keraton Kilen me-luncur dua mobil Alphard hitam AB 10 HS, dan AB 10 H keluar menuju Keben. Begitu sampai di depan Kori Brojonolo, terlihat HB X keluar dari mobil AB 10 HS. Selang beberapa menit ke-mudian diikuti sang permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.HB X mengenakan pakaian kebesaran seorang raja, atau biasa disebut busana keprabon. Ini berbeda dengan busana saat acara sabdatama 12 Mei 2012 dan 6 Maret 2015 lalu. Saat sab-datama, busana HB X surjan motif takwa dan blangkon.
Adapun ciri-ciri busana kepra-bon yang dikenakan HB X, an-tara lain, memakai kuluk biru (wakidan biru), sumping mlati, rasukan pethak asta panjang, rasukan sikepan bludi ran blen-ggen, dan sangsangan karset berlian mata. Lalu, ageman supe pusaka, kampuh, batik motif parang rong, lancingan cinde lis blundiran blenggen dan selop bludiran ceplok berlian. Demikian pula busana GKR Hemas. Pakaiannya sama persis seperti saat acara penobatan suaminya sebagai raja, sekaligus saat dirinya dikukuhkan sebagai permaisuri lebih dari seperem-pat abad silam. Begitu keluar dari mobil, pa-yung kebesaran tampak meny-ertai HB X.
Sedangkan GKR Pembayun, putri sulung Sultan HB X, berjalan di belakang ayah dan ibunya. Pembayun keluar dari mobil AB 10 H. Pembayun tampak mengenakan kebaya warna coklat muda.Selama acara, sejumlah adik HB X yang selama ini aktif mengik-uti acara-acara adat di keraton justru absen. GBPH Prabuku-sumo, GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, dan GBPH Condrodiningrat, hingga acara selesai tidak terlihat. Demikian pula KGPAA Paku Alam IX yang rajin menghadiri acara di kera-ton, juga tidak tampak. Satu-satunya pangeran yang hadir adalah KGPH Hadiwinoto. “Saya tidak bisa datang karena menjadi tutor di badan diklat,” ungkap GBPH Yudhaningrat yang sehari-hari menjabat Assekprov Administrasi Umum Setprov DIJ.
Usai acara di Sitihinggil, HB X mengumpulkan sejumlah kerabat dekatnya dan petinggi keraton. Seorang sumber di keraton mengungkapkan, dalam pertemuan itu HB X menjelas-kan latar belakang sabdaraja tersebut. “Ngarsa Dalem mendapatkan dawuh (perintah) dari Gusti Al-lah. Intinya, bakal ada perubahan di keraton ke depan,” ungkapnya. Dawuh tersebut berisi lima hal. Yakni, pertama, penyebutan buwono akan diubah menjadi bawono. Kedua, tidak lagi meng-gunakan gelar khalifatullah. Ketiga, penyebutan kaping se-dasa diganti kaping sepuluh. “Pertimbangannya sedasa itu maknanya kosong,” ucapnya.
Keempat, bakal mengubah perjanjian antara pendiri Mata-ram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan. Sedangkan kelima, HB X akan menyem-purnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.Keris Joko Piturun adalah pusaka untuk putra mahkota, atau pangeran yang ditunjuk raja sebelumnya untuk menjadi pengganti sultan berikutnya. Contohnya pengalaman HB IX. Ia mendapatkan Joko Piturun dari ayahnya HB VIII sebelum naik takhta 18 Maret 1940.Sedangkan Keris Kyai Kopek merupakan pusaka yang di-kenakan sultan setelah naik takhta. Pusaka warisan Sunan Kalijaga itu biasa digunakan HB X saat acara-acara di kera-ton. Selain Kyai Kopek, HB X juga sering memakai keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat. (sky/pra/laz/ong)