JOGJA – Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji ukuran tiga kilogram di DIJ akhirnya ditetapkan sebesar Rp 15.500. Nilai ini naik Rp 1.500 dari HET sebelumnya Rp 14.000. Gubernur DIJ Hamengku Buwono X sudah menandata ngani Peraturan Gubernur No 3/2015 tentang penetapan HET gas melon itu.”Sudah saya teken tadi, dan sudah bisa berlaku,” ujar guber-nur sebelum rapat paripurna di DPRD DIJ, kemarin (20/4). Menurut HB X, penetapan HET gas 3 kg itu sudah disesuai-kan dengan kondisi di lapangan. HET itu juga merupakan yang berlaku di tingkat pangkalan
HB X berharap dengan penye-suaian ini tidak menimbulkan kenaikan yang tinggi di pasaran. “Penyesuaian ini juga sudah mempertimbangkan keuntung-an pangkalan,” tuturnya.Sebelumnya, Kepala Dinas Per-industrian Perdagangan Koperasi dan UKM DIJ Riyadi Ida Bagus Subali mengatakan, pengaturan HET hanya sampai di tingkat pang-kalan saja. Untuk itu, pengawasan juga diperketat. Ia meminta pang-kalan untuk ikut mengawasi para pengecer di bawahnya. Menurut dia, seharusnya pang-kalan memiliki data pengecer.
“Jangan sampai yang terjadi nanti malahan pangkalan sekaligus peng-ecer. Itu tidak boleh karena bisa mempermainkan harga,” tuturnya.Sementara itu anggota DPRD DIJ dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Huda Tri Yudi-ana meminta gubernur bisa mengkaji ulang kenaikan HET gas melon. Ia mengkhawatirkan kenaikan HET tersebut akan menimbulkan efek domino, se-perti kenaikan harga bahan po-kok lain, yang justru makin membebani masyarakat. “Saya harap bisa mencari jalan lain, misalnya dengan penggunaan sumber energi alternatif lokal,” terangnya. (pra/laz/ong)