GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERBAHAYA: Sebuah baliho iklan yang terletak di sisi selatan kompleks XT Square, Jogja, roboh akibat angin kencang, kemarin (24/3)
KEBERADAAN iklan yang terpampang di ruang terbuka tidak lagi mengindahkan nilai estetika. Bahkan Persatuan Perusa-haan Periklanan Indonesia (P3I) Pengda DIJ menyatakan Jogjakarta mengalami darurat iklan luar ruangan. Humas Peng-da P3I DIJ Tau-fik Ridwan men-jelaskan, Jogja sebagai sebuah kawasan yang tidak terlalu luas, seharusnya menyesuaikan ketika memasang iklan di luar ruangan. Langkah itu untuk menghargai citra agung Jogja sebagai sebuah kota yang sarat akan peninggalan sejarah dan nilai-nilai budaya.”Iklan-iklan yang tepasang di berbagai spanduk, baliho, neon box dan billboardterlihat semrawut. Padahal Jogja cukup mele-kat sebagai wilayah kawasan budaya yang kreatif,” kata Ridwan kepada Radar Jogjakemarin (24/3)
Menurutnya, promosi apa pun harus kreatif, tidak merusak lingkungan heritage serta me-miliki nilai seni dan budaya. “Jadi tidak harus memakai bill-board ukuran raksasa. Kan ma-sih banyak media lain,” jelasnya.Ridwan mengungkapkan ham-pir 70 persen pelaku bisnis me-dia luar ruang bukan anggota P3I. Sehingga dalam menjalan-kan bisnis promosi luar ruang, banyak yang melanggar etika dan kewajaran. Keberadaan iklan luar ruang yang jumlahnya begitu besar sehingga tidak mengindahkan tata ruang, memberi kesan bahwa stakeholder kejar setoran untuk meningkatkan pemasukan APBD. Tampak sejumlah billboard dan baliho dengan ukuran besar, kini banyak dijumpai melintang di jalan-jalan yang sarat akan bangunan bersejarah. “Kesannya asal pasang dan tidak melihat nilai estetika, yang penting agar dilihat orang lain,” terangnya.
Taufik menjelaskan, iklan-iklan yang dipasang di Jogja tidak ha-rus besar-besar dan menutupi bangunan bersejarah, apalagi sampai mengotori tata ruang kota. “Mereka bisa mengkreasi iklan dalam bentuk seni. Se-perti pada penyelenggaraan biennale. Iklan-iklan bisa di-kreasikan dalam bentuk yang lebih unik,” tambah pria subur yang tinggal di Piyungan, Bantul, ini. (bhn/laz/ong)