SLEMAN- Pemerintah Desa Trimulyo, Sleman mendorong warganya membangun sarana sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Kades Suharjono meng-ungkapkan, program tersebut digalakkan sejak 2014 di 14 padukuhan.Dari pendataan, sebanyak 123 kepala keluarga (KK) tidak me-miliki jamban keluarga. Warga yang memiliki kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) justru lebih banyak, yakni173 KK. Nah, dari jumlah tersebut, lebih dari 100 KK terpicu untuk meng-ubah kebiasaan. Mereka tidak lagi buang hajat di sembarang tempat, seperti sungai atau kebun.”Kami deklarasikan STBM demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya kemarin (15/3).
Deklarasi diwujudkan alam selembar ikrar komitmen “Stop BABS” oleh semua kepala dukuh.Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nuraini sering mengingatkan, kebiasaan BABS rentan me-nimbulkan berbagai penyakit. Terutama diare. Meskipun begitu, diare juga bisa menjadi wabah di wilayah dengan akses jamban bagus.Setidaknya, hal itu dibuktikan dari pendataan selama 2013. Wilayah yang cakupan jamban-nya lebih dari 70 persen, tingkat penyakit diare juga tinggi. Misalnya, Kalasan 350 kasus, Moyudan 493, Godean 528, dan Minggir 1.020. “Tindakan BABS hnya salah satu faktor penyebab diare,” jelasnya.
Mafilinda mengatakan, tindakan BABS tidak selalu didasarkan atas ketidaktahuan seseorang atau karena tak memiliki jamban keluarga karena faktor ekonomi. Kondisi geografis, kebiasaan, dan sosiokultural juga bisa menjadi pemicu BABS. “Tak sedikit warga yang punya jamban di rumah tetap BAB di sungai. Itu kebiasaan,” lanjutnya.Bupati Sri Purnomo mengakui masih banyak warganya tidak punya jamban dan kebiasaan BABS. “Ada yang buang hajat di kolam atau sungai,” ungkapnya.Bukan urusan mudah untuk mengubah kultur tersebut. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sri, mengimbau warga saling berbagi jamban. Warga yang memiliki jamban di rumah di-minta rela memberi kesempatan bagi keluarga yang tidak punya jamban untuk ikut buang air besar di rumahnya. Itu menjadi salah satu siasat mengurangi tingkat BABS. (yog/din/ong)