KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi DIJ beserta Bulog menggelar operasi pasar (OP) di pasar Wates, kemarin (25/2). Sedikitnya ada tiga ton beras didistribusikan dalam OP kali ini. Namun sayang, pelaksanaan OP kali ini dituding kurang tepat sasaran.”Bisa dilihat sendiri, seorang bakul bisa beli sampai 40 kantong. Seharusnya itu menjadi jatah masyarakat atau konsumen yang benar-benar membutuhkan. Saya menilai operasi pasar seperti ini kurang tepat sasaran,” ucap salah satu warga Wates Made Arsa Wijaya disela OP di pasar Wates.
Menurut Made, operasi pasar tanpa ada regulasi yang jelas hanya menguntungkan bakul (pedagang). Karena beras yang didapat dari OP akan dijual lagi kepada masyarakat dengan harga yang sama mahalnya. “Panitia seharusnya juga memberi batasan pembelian, agar pembagiannya lebih merata,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Energi dan Sumber Daya Mineral Niken Probo Laras menuturkan, OP digelar mengikuti instruksi pemerintah pusat dalam merespons kenaikan harga beras beberapa pekan terakhir. “Agar kebutuhan masyarakat juga pedagang tepenuhi, untuk mengendalikan harga mudah-mudahan bisa stabil kembali,” tuturnya disela kegiatan,” kemarin.
Niken mengungkapkan, dalam OP Kali ini beras djual dengan harga Rp 6.800 per kilogram, pelaksanaan dimulai pukul 07.30. Pelaksanaan OP direncanakan tidak hanya sekali ini, kendati pelaksanaan berikutnya harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan kecamatan. “Setiap kecamatan akan kami ditawarkan kesempatan OP dan membutuhkan berapa. Kuota dari semua kecamatan akan diakumulasi-kan dan kita kirim surat ke Disperindagkop dan UKM Provinsi juga Bulog. Jadi kalau ditanya sampai kapan OP akan dilaksanakan, waktunya tidak terbatas,” ungkapnya.
Menanggapi pendapat OP berlangsung kurang tepat sasaran, Niken menjelaskan, tidak ada aturan baku dalam pelaksanaan OP selain regulasi dari Bulog. Aturan tersebut menyatakan jika OP tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat atau konsumen, melainkan juga untuk pedagang karena tujuannya untuk menstabilkan harga.”Jadi jika ada yang menuding OP ini tidak tetap sasaran akan kami terima sebagai masukan. Tapi yang jelas regulasi dari Bulog begitu. Saya juga optimistis ketika OP itu dilakukan lewat kecamatan akan lebih baik lagi,” jelasnya.
Menurut Niken, dasar pelaksanaan OP yakni kenaikan harga, sementara di Kulonprogo kenaikan harga beras di pasaran bisa dikatakan masih dalam batas kewajaran. Hal itu bisa dilihat dari data minggu pertama Januari dan minggu keempat Februari 2015, di mana kenaikan harga beras hanya berkisar antara Rp 500 hingga Rp 600 per kilogram untuk setiap jenis beras.”Tapi karena kita sudah niat membantu masyarakat maka OP tetap diusulkan dan hari ini sudah direalisasikan. Sedangkan jadwal pelaksanaan OP Bulog yang pegang,” ujarnya.
Saat ditanya apa kemungkinan penyebab kenaikan harga beras, Niken menyatakan kemungkinan permainan tengkulak, namun dia tidak berani mengklaim itu satu-satunya penyebab. Ia masih melihat kemungkinan lain seperti petani saat ini belum memasuki panen. “Saat panen raya, Kulonprogo sebetulnya cukup. Data di dinas pertanian bahkan menyatakan produksi padi kita surplus, maka dari itu bupati punya ide mengubah raskin menjadi rasda,” terangnya.
Sementara itu, pedagang beras di Pasar Wates Kasiem, 57, mengaku terbantu dengan di-laksanakannya OP kali ini. “Tentu senang, karena saya memilih tidak jualan beberapa hari terakhir karena harga beras kelewat mahal. Barangnya tidak ada,” ucapnya.Kasiem menuturkan, biasanya ia membeli beras dengan harga Rp 9.200 per kilogram, dan dijual dengan harga Rp 9.500 per kilogram. Ia mengaku tidak berani mengambil untung banyak karena menjaga konsumen. Sehingga saat harga naik tinggi, ia memilih tidak jualan.
“Biasanya saya hanya beli dari pertani sepuluh sampai 20 kilogram untuk satu petani, untuk beli ke pengepul besar harganya mahal sekali. Untuk beli banyak saya juga takut, karena bisa jadi saya beli mahal, saat jual harga turun, kan rugi,” katanya.Pembeli lain Jemiem alias Ijuk, 63,dalam kesempatan itu membeli 2 kuintal atau 40 kemasan beras masing-masing isi lima kilogram. Rencananya, beras itu akan dijual kembali. “Nanti akan saya campur dengan beras baru. Sekarang harga beras C64 Rp 8.500 per kilogram, kalau dicampur jadi Rp 8.000 per kilogram, jadi lebih murah,” ujar Ijuk pedagang sembako di Pasar Bendungan. (tom/ila/ong)