RADAR JOGJA FILE
MUSIMAN: Nelayan mengalami penurunan pendapatan dengan adanya larangan menangkap lobster, kepiting dan rajungan ukuran tertentu.
GUNUNGKIDUL – Sejumlah nelayan di Pelabuhan Sadeng, Girisubo tak menggubris aturan batasan pe-nangkapan lobster, kepiting dan rajungan di bawah 200 gram per ekor. Mereka bersikap acuh tak acuh dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Hal tersebut diungkapkan Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sadeng, Wamin. Menurutnya nelayan sudah tahu adanya larangan tangkap lobster, kepiting dan rajungan ukuran tertentu. “Tapi masih ada nelayan nekat menangkap,” kata Wamin, baru-baru ini (4/2).
Dia menjelaskan, Permen Kelautan dan Perikanan No 18/MEN-K/I/2015 tentang larangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan di bawah 200 gram per ekor sudah tersosialisasi dengan baik. Wamin menduga, aturan pembatasan tak digubris lantaran Permen tersebut tidak diikuti dengan sanksi.Hal senada diungkapkan Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Drini Marjoko.
Dia mengaku keberatan dengan kebijakan itu karena berdampak terhadap penghasilan nelayan. “Kalau saat musim panen seperti ini, kami jelas kelimpungan. Apalagi mencari lobster ukuran di atas 200 gram sudah sangat sulit,” ucapnya.
Pihaknya siap menaati kebijakan dengan catatan ada kompensasi, misalnya pendirian keramba. Pendirian keramba berfungsi untuk membudi-dayakan tangkapan lobster di bawah standar yang diperbolehkan.”Istilahnya lobster-lobster di bawah 200 gram dipelihara terlebih dahulu. Nanti setelah dua atau tiga bulan lansung bisa dijual, karena beratnya sudah mencukupi,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Karantina Ikan Adisucipto Jogjakarta Suprayogo bertemu dengan Kepala DKP Gunungkidul Agus Priyanto. Dia meminta supaya Permen Kelautan dan Perikanan dijalankan. “Lobster yang boleh ditangkap ukuran berat 200 gram per ekor. Kepiting 200 gram per ekor. Rajungan 55 gram per ekor,” kata Suprayogo.Kepala DKP Gunungkidul Agus Priyanto mengatakan, seharusnya ada sanksi tegas bagi pelanggar Permen, sehingga pengawasan bisa lebih maksimal. Kalau perlu pelestarian lobster bisa mencontoh perlindungan penyu. “Nanti diharapkan ada sanksi tegas bagi orang-orang yang terbukti menangkap,” kata Agus. (gun/ila/ong)

Pendapatan Nelayan Turun 50 Persen

SEMENTARA ITU, Dampak pembatasan penangkapan lobster juga mulai dirasakan nelayan di pantai selatan Kulonprogo. Tangkapan mereka mulai turun dan secara otomatis menurunkan pendapatan. Kendati demikian, mereka tetap sependapat dengan kebijakan pemerintah itu.
Nelayan di Pantai Karangwuni Darmanto mengatakan, penurunan pendapatan cukup drastis mencapai 50 persen lebih. Sebab jika sebelumnya semua ukuran lobster diangkat, namun kini harus menyeleksinya sesuai aturan pembatasan yang diterapkan Ke-menterian Perikanan dan Kelautan.”Yang kami bawa pulang yang beratnya tiga ons lebih. Kurang dari tiga ons atau yang sedang bertelur kami lepas lagi,” katanya belum lama ini (4/2).
Darmanto menjelaskan,rata-rata nelayan yang turun melaut hanya mampu mendaratkan lobster satu kilogram. Untuk mendapatkan udang bertubuh gendut itu nelayan juga harus lebih ke tengah. Lantaran di bagian tepi jarang dijumpai lobster dengan size lebih dari tiga ons.Nelayan lainnya, Heri menambahkan, sedianya harga lobster cukup baik saat ini. Terlebih saat mendekati hari raya Imlek, harganya bahkan bisa mencapai Rp 300 ribu per ekor dengan ukuran tertentu. “Tangkapannya juga berkurang, tidak seperti diawal bulan Januari lalu,” ungkapnya.
Seperti diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan Peraturan Menteri terhitung sejak awal Januari 2015. Isinya antara lain larangan pe-nangkapan lobster ukuran cangkang kurang dari delapan centimeter dan kepiting ukuran cangkang kurang dari 15 centimeter. Selain itu, larangan juga berlaku pada rajungan ukuran cangkang di bawah 10 centimeter.
Kebijakan itu bukan merupakan larangan, namun untuk memastikan produksi tak merosot hanya karena kepiting dan lobster yang sedang bertelur ikut terjual. Sementara sebagian nelayan cukup menyadari alasan pembatasan itu demi masa depan anak cucu mereka. Sebelumnya, Ketua Kelompok Nelayan Bogowonto Surjani juga mengaku telah menyosialisasikan hal itu kepada para nelayan. Pihaknya juga menyatakan aturan itu tidak menjadi masalah bagi nelayan. “Kami sudah berkumpul untuk menyikapi kebijakan itu dan tidak ada soal. Kami sangat paham alasan pembatasan itu, semua demi ke-langsungan hidup dan untuk anak cucu kita,” ujarnya.
Terpisah, Kabid Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kulonprogo Suganda Prabowo mengungkapkan, lobster sebetulnya hasil tangkapan nelayan yang sifatnya musiman. Lantaran tidak setiap saat lobster bisa ditemukan, lobster biasanya justru gampang ditangkap saat arus dan gelombang tinggi.”Jadi jika nelayan sepanjang waktu bisa menangkap komoditas ikan yang lain, lobster merupakan selingan. Hasil tangkapan utama nelayan di Kulonprogo yang utama justru ikan bawal dan layur. Sedangkan lobster saat musim tertentu saja, kalau tidak pas musim tidak ada,” ungkapnya. (tom/ila/ong)