KULONPROGO – Kasus demam berdarah dengue (DBD) tak hanya menjangkit masyarakat di Gunungkidul saja. Di Kulonprogo setidaknya ada sebelas orang yang terjangkit penyakit akibat ini.Kasi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Slamet Riyanto SKM menuturkan memasuki tahun 2015, data dinkes menyebtukan sudah terjadi kasus serangan DBD. Rinciannya di pedukuhan Pundak, Kembang, Nanggulan tiga kasus. Pengasapan atau fogging sudah dilakukan sebanyak dua kali, yakni Rabu (21/1) dan Rabu (28/1).
Kasus berikutnya di Sentolo Kidul, Sentolo terdapat dua kasus dan di desa Pongangan, Sentolo ada empat kasus. Sedangkan proses fogging dilakukan Selasa (27/1) dan akan diulangi sepekan berikutnya yakni tanggal (3/2) mendatang. Adapun kasus lainnya terjadi di Desa Tanjungharjo, Nanggulan dan Desa Terbah, Wates masing-masing satu kasus.”Jadi di awal tahun 2015 sudah terjadi sebelas kasus DBD, sementara di tahun 2014 terdapat 128 kasus DBD, dua korban di antaranya meninggal dunia,” terangnya.
Slamet menjelaskan, serangan DBD pada tahun 2014 terjadi di wilayah kecamatan Wates, Temon, Pengasih dan Nanggulan. Seluruhnya berada di dataran rendah. Hal itu tidak terlepas dari kebanyakan temuan, di mana daerah endemis DBD atau pem-biakkan vektor (nyamuk Aedes aegypti) justru berada di dataran rendah padat penduduk.”Berbeda dengan nyamuk Anopeles sebagai vektor malaria, yang kebanyakan berada di daerah dataran tinggi (pegunungan),” jelasnya.
Langkah yang diambil ketika terjadi temuan DBD, petugas langsung melakukan pe-nyelidikan epidemiologi (PE). Berkaca dari kasus yang terjadi di kecamatan Wates, angka bebas jentik (ABJ) di Wates terpantau rendah. Artinya masih banyak ditemukan jentik nyamuk, alias gerakan pem-berantasan sarang nyamuk (PSN) masih perlu ditingkatkan.Disinggung apakah ada pos anggaran khusus untuk penanganan DBD, Slamet menyatakan ada, yakni untuk proses fogging atau pengasapan.
Terutama di daerah yang terkonfirmasi adanya temuan atau laporan kasus DBD. Proses fogging akan didahuli dengan sosialiasi kepada masyarakat. Fogging akan dilakukan setelah dipastikan ada kasus DBD. Dasarnya temuan petugas, laporan dari warga atau dari daftar pasien RSU dengan vonis positif DBD.”Langkahnya, setelah mendapat laporan petugas akan turun ke lapangan untuk melakukan PE, melihat apakah ada gejala klinis yang diderita warga mengarah ke DBD atau tidak. Kemudian uji ABJ kalau rendah atau dibawah 95 persen dan disinyalir ada penularan DBD maka langsung dilakukan fogging,” terangnya.
Slamet mengungkapkan prinsip fogging yakni mematikan nyamuk dewasa, khususnya nyamuk yang sudah terinfeksi dan membawa plasmodium penyebab DBD. “Sebetulnya nyamuk yang terinveksi DB tidak banyak, namun untuk membedakan susah oleh karena itu dibasmi semuanya,” terangnya.
Fogging akan dilakukan dengan radius 200 meter dari titik penderita DBD. Peng-ulangan dalam sepekan dimaksudkan untuk membunuh nyamuk yang baru menetas. Sebab telur atau larva nyamuk yang berada di air hanya membutuhkan waktu tujuh hari atau sepekan untuk menjadi nyamuk dewasa.
Secara teknis, fogging dilaksanakan pada pagi hari, tujuannya menghindari udara yang bergerak. Jenis obat yang digunakan yakni Lamda Sihalotrin, masuk golongan sintetik peritroit atau pestisida ramah lingkungan. “Namun kami akan melakukan fogging seakurat dan seefektif mungkin di lokasi yang benar-benar positif DBD. Karena yang namanya insektisida itu pasti kimia, jadi kami akan tetap hati-hati dan seminimal mungkin menebarkannya di udara, kendati sudah dipastikan ramah lingkungan,” bebernya. (tom/ila/ong)