JOGJA – Penolakan warga terdampak langsung pembangunan bandara di Kulonprogo tak membuat Gubernur DIJ Hamengku Buwono X bersedia turun tangan. Raja Keraton ini memi-lih menyerahkan persoalan tersebut ke Tim Percepatan Pembangunan Bandara.”Sudah ada tim yang melakukan sosialisasi,” kata HB X di sela Eks-pose Hasil Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan APBD 2014, di salah satu hotel di Ma-lioboro, kemarin (22/1).
Bapak lima puteri ini menuturkan, Tim Percepatan Pembangunan Bandara sudah ia berikan kewenangan penuh untuk menuntaskan pembangunan bandara. Artinya, untuk penanganan proses pembangunan kini tak perlu di-rinya turun tangan. “Saya tidak mau melakukan intervensi,” kilah HB X.
Pembangunan bandara internasional di Temon, Kulonprogo, itu saat ini ma-sih mendapatkan penolakan warga. Mereka tergabung di Wahana Tri Tung-gal (WTT) yang selama ini memang aktif menolak kebijakan pembangunan bandara.Terakhir adalah aksi WTT dengan menghadang petugas yang akan me-masang patok koordinat.
Alhasil, di Jalur Lintas Selatan (JJLS) itu sempat terjadi kericuhan antara warga dengan petugas kepolisian. Bahkan seorang wartawan dan anggota Polres Kulon-progo terkena lemparan batu akibat aksi kelompok itu.
Hal ini juga diakui HB X. Sosialisasi pembangunan bandara tidak ber-langsung mulus. Ada warga yang melakukan penolakan terhadap ren-cana pembangunan tersebut. “Yang melakukan penghadangan itu, paling yang tidak setuju pembangunan ban-dara. Kita lihat nanti perkembangan-nya,” ujarnya.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengakui, ada sejumlah warga yang menolak pembangunan bandara dengan melakukan penghadangan pemasangan patok titik koordinat. Mereka yang menghadang berasal dari sejumlah warga dari dua dusun di Desa Glagah. “Penghadangan itu karena ada miskomunikasi saja,” ka-tanya.
Hasto menjelaskan, dari informasi yang diterimanya, sebenarnya ke-pala desa setempat sudah menyam-paikan kepada kepala dukuh seputar rencana pematokan. Namun, kepala dukuh belum menyampaikan kepada warga. “Sehingga ke depan memang komunikasi perlu ditingkatkan,” ujar dokter spesialis obsygin ini.
Dia mengakui, memasang patok di wilayah yang sebagian warganya be-lum setuju bukan hal mudah. Tapi seiring perjalanan waktu, warga akan menerima dan mendukung pembangu-nan bandara.”Sikap setuju dan tidak setuju tidak salah, yang penting dikomunikasikan. Wong tidak sepakat itu bisa disepa-katkan kok,” jelas Hasto. (eri/laz/ong)