ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
ANTISIPASI: Salah satu rumah di RT 05 Giriloyo, Wukirsari, Imogiri yang sudah dibongkar untuk menghindari keretakan tanah yang lebih parah. Tingginya curah hujan kian memicu keretakan semakin parah. Puncaknya, Jumat pagi (23/1).

Sejumlah Rumah Warga Harus Direlokasi

 
IMOGIRI – Tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Bantul belakangan ini menyebabkan tanah di wilayah Pedukuhan Giriloyo, Wukirsari, Imogiri retak. Guna mengantisipasi adanya korban jiwa, sejumlah rumah di sekitar retakan disarankan untuk direlokasi.Keretakan tanah sudah terlihat sejak sepekan terakhir. Tingginya curah hujan belakangan ini kian memicu keretakan semakin parah. Puncaknya, Jumat pagi (23/1), retakan tanah sudah selebar 20 meter. “Geraknya tanah karena tingginya intensitas hujan,” terang Ketua RT 06 Pedukuhan Giriloyo Basuki.
Retaknya tanah ini berada di salah satu ruas jalan kampung yang sekaligus menjadi batas wilayah antara RT 05 dan RT 06. Di RT 05 setidaknya terdapat empat rumah yang terkena dampak langsung dari ke-retakan tanah ini. Bahkan, ada satu rumah di RT 05 yang sudah dibongkar untuk menghindari keretakan yang lebih parah. Maklum, retaknya tanah berada persis di bawah empat rumah tersebut.
Di sisi lain, empat rumah di RT 06 juga terancam jika terjadi longsor. Sebab, keretakan tanah ini persis berada di atas empat rumah tersebut. Perlu diketahui, permukiman warga di RT 05 maupun RT 06 berada di tebing pegunungan Krasak. “Jika hujan te-rus bisa longsor nantinya,” ujarnya.
Selain delapan rumah tersebut, ada p uluhan kepala keluarga (KK) di wilayah RT 05 dan RT 06 Giriloyo yang juga terancam bahaya karena keberadaan batu besar di atas tebing. Ini karena penyangga batu yang diper kirakan sebesar tiga rumah ini sudah lepas. Selain itu, di sekitar batu tersebut juga sudah ada banyak retakan. “Kami selalu was-was kalau hujan deras. Khawatirnya kalau batunya ambrol dan nggelinding ke bawah,” tutur-nya.
Karena itu, Basuki pun meminta kepada pemkab untuk segera menanganinya. Ada dua pilihan yang dapat ditempuh pemkab. Yaitu meledakkannya atau merelokasi warga. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengatakan, sudah meminta pamong desa setempat untuk mendata seluruh KK yang terkena dampak dari retaknya tanah ini. “Sudah nggak memungkinkan lagi sebagai permukiman,” jelasnya.
Sebagai solusinya, delapan rumah ini pun disarankan untuk direlokasi. Menurutnya, lahan relokasi masih dikomunikasikan dengan pihak kelurahan setempat. Di-perkirakan lahan relokasi menggunakan tanah kas desa. “Karena banyak nanti akan dibuat satu pemukiman baru. Untuk biaya relokasi dari kami (BPBD),” tambahnya. Setiap satu rumah nanti akan mendapatkan biaya sebesar Rp 15 juta untuk proses re-lokasi. (zam/din/ong)