HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
TETAP MENOLAK:Ratusan warga WTT saat berkumpul di depan Rumah Dinas Bupati Kulonprogo sambil berorasi dan meneriakan yel-yel penolakan bandara, kemarin (14/1).

Tanah Subur, Warga Tak Ingin Digusur

KULONPROGO – Ratusan warga yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) mendatangi Rumah Dinas Bupati Kulonprogo, kemarin (14/1). Mereka mengaku puas setelah berhasil bertemu dengan Bupati Hasto Wardoyo, kendati belum ada tititk temu. Agenda pertemuan ini sebelumnya sempat terancam batal, sebab terjadi perdebatan soal teknis dan lokasi pelaksanaannya.
Hingga akhirnya, Bupati Hasto mengizinkan ratusan warga WTT datang menemuinya di Pendapa Rumah Dinas Bupati. Audiensi dan tatap muka bersama bupati diikuti sekitar 20 perwakilan WTT.Ikut mendampingi Bupati Hasto, Sekda Kulonprogo Astungkoro bertugas menjadi moderator dalam pertemuan itu. Tatap muka berlangsung sekitar satu jam. Dalam tatap muka itu, perwakilan WTT mendapat kesempatan untuk menyampaikan alasan penolakan bandara. Ketua WTT Martono mengaku puas bisa bertemu bupati kali ini. Kendati belum ada kesimpulan apapun.
Menurutnya, memang sudah ada kesepakatan awal terkait rencana pertemuan yang diagendakan kali ini. Yakni WTT tidak menuntut pernyataan alias hanya curhat kepada bupati.”Ini tatap muka yang pertama dengan pak bupati, sehingga kami memaklumi jika beliau belum bisa mengambil keputusan. Namun kami tetap meminta bupati menyampaikan sikap penolakan pembangunan bandara di Temon kepada Gubernur,” ucapnya.
Menurut Martono, WTT merencanakan pertemuan selanjutnya dengan agenda pembahasan yang sama. Pernyataan bupati terkait rencana pertemuan selanjutnya juga diartikan oleh WTT sebagai bentuk harapan dari bupati yang akan mengikuti keinginan warga WTT. “Sejak awal kami menyatakan penolakan terhadap bandara tanpa syarat. Artinya tidak ada ganti rugi atau semacamnya yang kami minta. Kami hanya ingin pembangunan bandara batal dilaksanakan di Temon,” ujarnya.
Warga WTT lainnya Sugito menyampaikan hal senada, tanah pesisir begitu subur dan sudah sangat menyejahterakan petani. “Saat musim kemarau tidak kekeringan, saat musim hujan tidak kebanjiran. Hidup dengan bertani itu sudah cukup bagi kami,” katanya.Warga lainnya, Wasiyo menambahkan, lahan pertanian di Temon tidak layak dikorbankan menjadi lahan pembangunan bandara karena subur. Kalau digusur, warga sudah tidak bisa apa-apa lagi. “Tolong pak bupati bisa memikirkan itu,” pintanya.
Bupati Hasto menyampaikan, pem-bangunan bandara di Kulonprogo merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan. Jika bandara tersebut jadi dilaksanakan di Kulonprogo, ia berharap tidak ada yang merasa dipaksa dan terpaksa.”Pemkab Kulonprogo hanya mengikuti prosedur yang ada dari pusat dan tidak ada rekayasa dalam rencana ini supaya warga setuju atau tidak,” terangnya.
Sementara itu, ratusan warga WTT lainnya menunggu di depan Rumah Dinas Bupati sembari berorasi dan meneriakan yel-yel penolakan bandara. Mereka datang menggunakan sepeda motor dan mobil serta truk. Selain berorasi mereka juga menyertakan sejumlah atribut yang berisi kecaman dan penolakan, juga keranda mayat sebagai simbol matinya hak rakyat. Mereka juga membentangkan spanduk dan bendera WTT. Dengan pengawalan aparat kepolisan, aksi kali ini juga diikuti mahasiswa yang tergabung dalam Sekolah Bersama (Sekber). (tom/ila/ong)