DOKUMEN PFI

PANGGUNG KEHORMATAN: Salah satu foto karya Nico Kurnia Jati, fotografer Republika yang dipamerkan dalam Ayo Ngguyu #2 di BBY.

Sajikan 117 Foto, Angkat Sisi Unik dan Humor

Potret karya jurnalistik tidak hanya menajdi materi berita. Foto selama melakukan tugas peliputan pun dapat menjadi sebuah karya seni. Inilah yang coba dilakukan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogjakarta.
DWI AGUS, Jogja
BENTARA Budaya Yogyakarta (BBY) Sa-btu malam (27/12) ramai oleh hiruk pikuk sejumlah jurnalis. Bukan untuk mencari berita, namun para jurnalis foto ini me-rayakan sebuah peristiwa. Hari itu menjadi pertanda sekian kalinya para jurnalis foto ini berpameran.Bertajuk Ayo Ngguyu #2, pameran ini me-nyajikan 117 foto jurnalistik. Foto-foto ini merupakan karya para fotografer selama mereka mengemban tugas jurnalistik. Ba-gaimana setiap momen unik ditangkap dan diabadikan melalui frame foto.
Barisan foto ini seakan mengajak peng-unjung BBY benar-benar tertawa. Ini ka-rena setiap wartawan mampu mengha-dirkan momen-momen yang tak terduga. Baik itu dalam bentuk kritik atau pun benar-benar dalam kondisi yang meng-gelikan.Budayawan sekaligus pemerhati foto jur-nalistik menilai pameran ini unik. Di mana mengangkat hal yang ringan menjadi se-suatu yang layak untuk dipkirkan. Pengema-sannya pun tidak secara serius, namun mengangkat sisi humor.”Setiap hari kita tertawa, tetapi umumnya kita tidak tahu untuk apa sesungguhnya kita tertawa. Biasanya tertawa berkaitan dengan yang lucu. Kadang muncul di hada-pan kita peristiwa yang seharusnya tak bo-leh membuat kita tertawa, tapi toh peris-tiwa itu terpaksa membuat kita tertawa,” kata Dr Sindhunata
Tertawa, menurut pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini, juga memiliki sebuah arti, di mana menjadi sebuah bentuk ekspresi sosial terhadap ling-kungan. Tertawa juga memiliki makna berupa sindiran.Bahkan saat ini kecenderung-an untuk menertawakan sudah menjadi hal yang lumrah. Kerap muncul dorongan bukan untuk sekadar tertawa, tapi untuk me-nertawakan. Sehingga bentuk tawa saat ini tidak hanya secara harafiah tertawa, tapi memiliki makna yang lain.
Romo Sindhu menggambarkan karya foto para jurnalis ini tidak hanya berkenaan dengan impuls personal. Jika ditelaah secara mendalam, karya-karya ini juga berhubungan dengan impuls-impuls sosial.”Jelas juga pameran foto ini tidak hanya hendak menyam-paikan pengertian tentang ter-tawa, tapi mengajak kita untuk ikut tertawa atau menertawakan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan,” kata Romo Sindhu.
Radar Jogja pun turut berpameran melalui salah satu fotografer-nya, Guntur Aga Tirtana. Dalam fotonya digambarkan seorang anak sedang bermain layang-layang. Seakan ingin memotret ironi minimnya ruang publik.Kuburan yang identik sebagai keheningan dan peristirahatan kekal, justru menjadi ajang bermain. Di satu sisi memang tidaklah sopan, namun di sisi lain memotret ada satu hal yang sa-lah. Terutama kondisi ruang publik yang semakin minim di Jogjakarta.
Karya fotografer Kompas Wawan H Prabowo menyajikan human interest. Digambarkan seorang ba-pak yang bercanda dengan anaknya. Sang anak ditaruh di dalam bronjong yang tertumpang di sepeda-nya. Dengan senyum dan tawa mengembang, seolah sang bapak lupa akan beban hidupnya.”Bronjong sendiri adalah sim-bol bagi beban hidupnya. Dengan bronjong itu ia pergi ke mana-mana, bersusah payah mengangkut beban dan mencari rezeki. Tapi sekarang bronjong itu berisi anaknya yang memberi harapan padanya. Karena itu ia tertawa, dan yang melihat pun ikut tertawa bersamanya,” kata Wawan.
Begitu pula foto karya Boy T Harjanto, fotografer Jakarta Globe. Menggambarkan tanah yang merekah pecah karena kekeringan. Sebuah potret ironi seakan mengajak untuk berpikir. Bagaimana seorang bapak ber-susah payah mencari elemen yang sederhana namun penting, yaitu air.Fotografer Tempo Suryo Wi-bowo mengabadikan sebuah angkot berwarna biru. Dalam angkot ini bergelantungan anak-anak. Tentunya ini adalah suatu hal yang membahayakan untuk dilakoni. Namun di sisi lain ini harus mereka lakukan untuk menuju arah tujuan mereka.”Betapa di republik ini fasilitas kendaraan umum demikian sedikit, dan sama sekali tidak men-jangkau kebutuhan orang ba-nyak, juga anak-anak,” kata Romo Sindhunata.
Ketua PFI Jogjakarta Pamungkas WS mengungkapkan, pameran ini merupakan diskusi akhir t-hun. Di mana semua kondisi selama setahun ini terabadikan dalam frame foto. Pameran ini pun melibatkan sebanyak 31 fotografer dengan fenomena yang berbeda.Dengan mengangkat tema yang tidak biasa, PFI seakan menga-jak refleksi akhir tahun. Melihat apa yang terjadi, yang dilakukan hingga pesan yang ingin disam-paikan.
Namun cara yang di-gunakan tidak secara reaktif, namun kalem, menghibur dan tetap kritis.”Kami lebih memilih sikap yang terkesan diam, tidak reaktif un-tuk memandang fenomena yang ada. Kami lebih mengajak ayo ngguyu untuk bersikap,” tambah dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja ini. (*/laz/jiong)