HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BELUM BERES: Lokasi akan didirikannya rumah pemotongan ayam (RPA) di Pleret, Wates, Kulonprogo.
KULONPROGO – Komisi II DPRD Kabupaten Kulonprogo meminta PT Jaya Makmur Pra-yoga Sentausa (JMPS) segera mengurus izin mendirikan bangunan (IMB). Dewan juga mendesak PT melakukan pegurusan perizinan melalui tahapan-tahapan yang resmi.
Hal itu ditegaskan Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kulonprogo Muhtarom Asrori dalam kunjungan kerja (kunker) ke Rumah Pemotongan Ayam (RPA) PT JMPS di Pedu-kuhan V Pleret Kecamatan Wates, Selasa (2/12).
Muhtarom mengungkapkan PT JMPS seharusnya juga memberitahukan terkait perizinan kepada pihak pemerintah desa (pemdes). Sehingga tidak muncul salah tafsir oleh pemdes dan masyarakat. “Proses per-izinan harus disampaikan secara transparan dan jelas, sehingga tidak muncul salah penaf-siran bagi masyarakat di sekitar,” ungkapnya.
Manajer Bidang Produksi PT JMPS Adi Nugro-ho menjelaskan rumah pemotongan ayam yang akan dibangun oleh PT JMPS merupakan yang terbesar se-Indonesia. Kapasitas mesin dapat memotong ayam 5.000 ekor per jam.
Total luas tanah yang dipergunakan seluas 30.100 meter persegi. Rinciannya, luas tanah yang sudah dibebaskan 13.000 meter persegi, sedang yang baru proses pembebasan 20.100 meter persegi. “Proses awal, luas bangunan produksi seluas 2.000 meter persegi. Sedangkanma-salah IMB, PT JMPS sedang dalam proses di Dinas Perizinan,” jelasnya.
Menurut Adi, sesuai dengan namanya, rumah potong hewan itu khusus untuk ayam. Hasil produksinya juga tidak meng-ubah bentuk ayam menjadi sosis ataupun nugget dan bentuk lainnya melainkan tetap berupa daging ayam. “Tenaga kerja 90 persen memberdayakan tenaga kerja lokal, khususnya Pedukuhan V dan Pedukuhan IV Pleret, Kecamatan Wates,” ujarnya.
Kepala Desa Pleret R Widayaka mengung-kapkan pihaknya tidak dilibatkan dalam hal pengurusan perizinan maupun pembebasan tanah rumah pemotongan ayam oleh PT JMPS. Sehingga belum mengetahui secara detail apa saja yang akan dihasilkan PT JMPS.
Hal itu memunculkan banyak pendapat, baik di kalangan pemdes maupun warga. Masyarakat sekitarnya mengira PT JMPS merupakan rumah pemotongan ayam ter-padu yang juga mengelola peternakan ayam. “Warga sempat menjadi resah, dengan in-formasi atau wacana itu. Terlebih dalam pro-ses pembebasan tanah, PT JMPS hanya mengajukan blangko kosong namun belum jelas peruntukannya,” ungkapnya. (tom/ila/ong)