SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
GELORAKAN KEARIFAN LOKAL: Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Dr Dino Patti Djalal saat memberikan materi pada Opening CeremonyMahathir Global Peace School (MGPS) ketiga bertema Interstate Relation and Global Justice for Peace and Conflict Resolution di UMY, kemarin.

Globalisasi Harus Dilihat Sebagai Sebuah Peluang

JOGJA – Beberapa tahun terakhir, isu perdamaian menjadi tema hangat di sebagian masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Sayangnya, isu perdamaian belum mendapatkan porsi yang memadai dari pemerintah. Itu tercermin dari berbagai konflik yang pernah terjadi di tanah air, seperti kon-flik lahan perkebunan, SARA, dan tanah.
“Ketika akan menyelesaikan konflik, seharusnya pejabat pemerintah mem-pertimbangkan kearifan lokal. Sebab, di setiap daerah memiliki local wisdom,” kata mantan Wakil Menteri Luar Ne-geri Indonesia Dr Dino Patti Djalal saat didaulat sebagai keynote speech pada Opening Ceremony Mahathir Global Peace School (MGPS) ketiga bertema Interstate Relation and Glo-bal Justice for Peace and Conflict Re-solution di UMY, kemarin. Sebagai negara yang memiliki ba-nyak suku, ras, dan budaya, lanjut Dino, seharusnya Indonesia meng-gunakan kearifan lokal (local wisdom) itu untuk resolusi konflik. Sebab, dalam kearifan lokal, banyak mengandung kebijakan-kebijakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk menyelesaikan konflik.
“Sebagai negara besar, Indonesia harus bisa menggunakan local wisdom sebagai instrumen penyelesai konflik. Sayangnya, local wisdom yang berasal dari seluruh penjuru nusantara ini be-lum terdokumentasikan dengan baik. Indonesia punya banyak local wisdom yang bisa menjadi rujukan dalam membangun kerukunan antar individu maupun kelompok,” tambah Dino.
Menurut Dino, acara MGPS dapat menjadi salah satu cara bagi Indone-sia atau negara lain untuk terus meng-gali upaya penyelesaian konflik di negaranya. Dengan keinginan men-ciptakan perdamaian di dunia, maka semua negara patut untuk saling mengenal keragaman sosial, tradisi, budaya dan agama di negara lain.
“Globalisasi harus dilihat sebagai sebuah peluang. Kita punya kesempa-tan lebih di era globalisasi ini untuk bi-sa berkiprah di dunia internasional, termasuk upaya menciptakan perda-maian,” tambah Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini.
Rektor UMY Bambang Cipta me-ngatakan, even ini tidak sekadar un-tuk mengibarkan kampus UMY, tapi bagian dari syiar Islam. Saat ini, UMY tengah memikirkan apakah kajian perdamaian ini akan dijadikan pro-gram master atau sekadar training. “Even ini diikuti 14 negara. Tidak hanya negara Islam, nonislam ikut berpartisipasi, seperti India,” kata Bambang.
Ketua Komite Akademik dalam MG-PS Himan Latief mengatakan, persoa-lan konflik perbatasan antarnegara sedang menjadi isu sensitif di berbagai negara. Selain itu, ada pula isu perti-kaian dan konflik antarkelompok. “Setiap perbatasan memiliki keunikan tersendiri. Maka, calon penggiat perdamaian perlu mema-hami secara komprehensif menge-nai kompleksitas sosial, budaya, ekonomi, keamanan, dan politik,” kata Hilman. (mar/jko/ong)