Antrean Pasien di RSUP Sardjito Hingga Satu Tahun

JOGJA – Jumlah penderita kanker di dunia terus bertam-bah. WHO memperkirakan penderita kanker mengalami peningkatan hingga 300 persen di seluruh dunia pada 2030. Sementara 70 persen kenaikan tersebut akan terjadi di ne-gara berkembang, termasuk Indonesia. Meningkatnya angka kejadian kanker di In-donesia perlu disikapi serius oleh pemerintah.
Ketua Perhimpunan Onko-logi Radiasi Indonesia (PORI) Prof dr Soehartati A. Gondho-wiardjo mengatakan, radiote-rapi sejak dini dapat mening-katkan kualitas hidup pasien hingga 85 persen. Metode ini banyak digunakan di negara maju maupun berkembang se-kitar 60-70 persen dalam pe-ngobatan kanker. Sayangnya, belum semua pasien kanker yang memerlukan terapi radi-asi di Indonesia dapat mengak-ses layanan tersebut, karena keterbatasan alat radioterapi.
“Saat ini ada 28 pusat radiote-rapi di Indonesia. Tapi, semua-nya harus di up-grade, karena jumlah pasien kanker terus ber-tambah,” kata Soehartati saat jumpa pers kegiatan European Society for Radiotherapy and Onchology (ESTRO) di Fakultas Kedokteran UGM, kemarin.
Soehartati menambahkan, tidak sedikit pasien kanker yang kurang tertangani karena mi-nimnya peralatan terapi radiasi. Bahkan, di sejumlah daerah, pasien harus mengantre dalam jangka waktu cukup panjang untuk menjalani radioterapi, seperti di RS Dr. Cipto Mangun-kusumo. Di rumah sakit ini, daftar tunggu radioterapi hing-ga 6 bulan. Bahkan di RS Ka-ryadi Semarang antrean terjadi hingga satu tahun.
Berkenaan dengan kenyataan tersebut, Soehartati meminta masyarakat mewaspadai risiko kanker dengan memulai pola hidup sehat. Pasalnya sekitar 43 persen kejadian kanker bisa di-cegah dengan pola hidup sehat.
“Radioterapi memang bisa me-ningkatkan kualitas hidup pasien, jika dilakukan sejak dini. Tapi, kalau harus menunggu menda-patkan penangangan sampai 1 tahun, kanker sudah semakin parah,” beber Soehartati.
Antrean yang sama terjadi di RS Dr Sardjito. Direktur RS Dr Sardjito, Dr M Syafak Hanung mengatakan, pasiennya juga harus mengantre setidaknya 1 tahun untuk mendapatkan pe-rawatan radioterapi di RS Dr. Sardjito. Peningkatan jumlah antrean semakin bertambah sejak pemberlakuan kartu sehat dari Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS).
“Daftar waiting list untuk ra-dioterapi di Sardjito sampai Januari 2016,” kata Hanung.
Saat ini RS Dr Sardjito baru memiliki dua alat radioterapi. Sedangkan jumlah pasien kan-ker yang membutuhkan penanga-nan alat tersebut semakin me-ningkat dari tahun ke tahun. Data tahun 2009 pasien kanker mencapai 1033 orang meningkat menjadi 1420 orang pada tahun 2013. Dari total jumlah pasien di tahun 2013, baru 856 orang yang memperoleh perawatan radioterapi.
“Hanya 60 persen saja yang bisa mendapat pelayanan ra-dioterapi, sementara sisanya tidak tertangani,” terang Hanung.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, perlu dilakukan penambahan alat radioterapi. Sayangnya, rumah sakitnya belum mampu mengadakan peralatan radioterapi secara mandiri. “Harga satu unit mencapai Rp 15 miliar,” jelas Hanung. (mar/jko/ong)